Tampilkan postingan dengan label Ayo Sekolah. Tampilkan semua postingan

PPDB MENGGUNAKAN ZONASI




Pemerintah pusat mewajibkan semua sekolah untuk menerapkan sistem zonasi dalam menggelar Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2017/2018.  Dalam Permendikbud Nomor 17 Tahun 2017 disebutkan seleksi PPDB pada kelas 7 SMP dan kelas 10 SMA/SMK mempertimbangkan kriteria dengan urutan prioritas sesuai dengan daya tampung berdasarkan ketentuan rombongan belajar.

Adapaun yang  menjadi urutan prioritas itu adalah: jarak tempat tinggal peserta didik ke sekolah sesuai dengan ketentuan zonasi, usia peserta didik sesua dengan aturan PPDB, nilai hasil ujian sekolah (untuk lulusan SD) dan Surat Hasil Ujian Nasional atau SHUN (bagi lulusan SMP),  dan prestasi di bidang akademik dan non-akademik yang diakui sekolah sesuai dengan kewenangan daerah masing-masing.

Tujuan PPDB adalah untuk menjamin penerimaan peserta didik baru berjalan secara objektif, akuntabel, transparan, dan tanpa diskriminasi sehingga mendorong peningkatan akses layanan pendidikan. Disamping itu juga PPDB dapat dilakukan dengan dua acara, yakni pendaftaran melalui jejaring (daring/online), yaitu melalui laman (website) resmi PPDB daerah masing-masing. Berikutnya juga dapat dilakukan dengan pendaftaran melalui luring (luar jaringan/offline), yaitu dengan mendaftar langsung ke sekolah.

Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah wajib mengumumkan secara terbuka proses pelaksanaan dan informasi PPDB, antara lain terkait persyaratan, seleksi, daya tampung, dan hasil penerimaan peserta didik baru. Masyarakat diharapkan dapat mengawasi dan melaporkan pelanggaran dalam pelaksanaan PPDB melalui kanal pelaporan dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota masing-masing.

Untuk Pemerintah provinsi mengawal PPDB untuk jenjang SMA/SMK sederajat, sedangkan pemerintah kota/kabupaten mengawasi pelaksanaan pada jenjang SD/SMP sederajat. Sekolah wajib menerima semua calon siswa yang berdomisili masih satu wilayah dengan sekolah.

PPDB dengan sistem zonasi sesuai dengan Permendikbud nomor 17/2017 tentang PPDB. Kesesuaian regulasi zonasi ini dibuk­tikan dengan penerapan aturan penerimaan calon peserta didik berdo­misili radius zona terdekat sekolah. Paling sedikit 90 persen dari total jumlah keseluruhan peserta didik di­terima. Sedangkan 10 persen nya untuk peserta didik yang berasal dari luar daerah. Hal tersebut sesuai Pasal 15 ayat 1, Permendibud Nomor 17 tahun 2017. Syarat utama sistem zonasi adalah jarak tempat tinggal siswa ke sekolah tujuan.  Sistem zonasi untuk menghilangkan predikat sekolah favorit dan tidak favorit serta penumpukan siswa di sekolah tertentu.

Namun tidak dapat dipungkiri kalau kita kaji pada salah satu kota terdekat, ada sekolah yang hanya kebagian pendaptaran 30 orang saja. Hal ini membuat kita bertanya-tanya bagaimana pembagian kuota yang sudah di pilih oleh peserta didik sesuai dengan pilihannya. Hal ini juga membuat masyarakat bingung bahkan para orangtua calon pendaftar. Sangat minimnya sosialisasi yang diberikan sekolah mengenai sistem yang baru diterapkan pada tahun ajaran 2017/2018 ini juga menjadi keluhan para orang tua. Kedepan seharusnya paling tidak ada sosialisasi jauh hari biar kita tidak kebingungan bagaimana caranya. Kebijakan zonasi dalam PPDB ini juga membantu dalam penyebaran guru dan bantuan sekolah supaya terjadi pemerataan kualitas di semua sekolah.

LIMA HARI SEKOLAH




Pemerintah akan menerapkan delapan jam sekolah selama lima hari dalam satu minggu. Hal itu sejalan dengan pelaksanaan dari Permendikbud Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah. Bahwa untuk mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan perkembangan era globalisasi, perlu penguatan karakter bagi  peserta didik melalui restorasi pendidikan karakter di sekolah.

Penguatan karakter bangsa menjadi salah satu butir Nawacita yang dicanangkan Presiden Joko Widodo melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Komitmen ini ditindaklanjuti dengan arahan Presiden kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengutamakan dan membudayakan pendidikan karakter di dalam dunia pendidikan. Atas dasar ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencanangkan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) secara bertahap mulai tahun 2016.

Hari Sekolah dilaksanakan 8 jam dalam 1 hari atau 40 jam selama 5 dalam 1 minggu. Ketentuan 8 jam dalam 1 hari atau 40 jam selama 5 hari dalam 1 minggu adalah termasuk waktu istirahat selama 0,5  jam dalam 1 hari atau 2,5 jam selama 5 hari dalam 1 minggu. Hari Sekolah digunakan oleh Guru untuk melaksanakan beban kerja Guru, yang meliputi:  merencanakan pembelajaran atau pembimbingan, melaksanakan pembelajaran atau pembimbingan, menilai hasil pembelajaran atau pembimbingan, membimbing dan melatih Peserta Didik dan  melaksanakan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan pokok sesuai dengan beban kerja Guru.

Hari Sekolah digunakan bagi Peserta Didik untuk melaksanakan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Kegiatan intrakurikuler merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk pemenuhan kurikulum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kegiatan kokurikuler merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk penguatan atau pendalaman kompetensi dasar atau indikator pada mata pelajaran/bidang sesuai dengan kurikulum. Kegiatan kokurikuler meliputi kegiatan pengayaan mata pelajaran, kegiatan ilmiah, pembimbingan seni dan budaya, dan/atau bentuk kegiatan lain untuk penguatan karakter Peserta Didik.

Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan di bawah bimbingan dan pengawasan Sekolah yang bertujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian Peserta Didik secara optimal untuk mendukung pencapaian tujuan pendidikan. Kegiatan ekstrakurikuler termasuk kegiatan karya ilmiah, latihan olah-bakat/olah-minat, dan keagamaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Lima hari sekolah saat ini sedang marak kembali. Gagasan itu lantaran libur akhir pekan diyakini dapat lebih mengintensifkan komunikasi para siswa itu dengan keluarga mereka di rumah. Hal ini juga perlu diperhatikan mengingat dalam hal belajar bahwa pencapaian ranah kognitif, psikomotorik dan afektif secara seimbang memerlukan waktu yang cukup agar potensi kecerdasan siswa berkembang (intelektual, emosional, spiritual, sosial, kinestetik, musik, hubungan antar personal dan interpersonal) membentuk pribadi yang utuh.

Belajar harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: tingkat kejenuhan dan kebosanan siswa, tingkat kebugaran, konsentrasi dan ketahanan fisik/mental. Tingkat usia dan perkembangan kemampuan belajar. Disamping itu juga yang ahrus diperhatikan kesiapan daerah/pemerointah mempersiapkan sarana parasana sekolah yang saat ni masih banyak sekolah yang menggunakan double shift (pagi dan sore karena kurangnya ruang kelas untuk belajar). Prasarana terbatas dengan situasi sekolah yang halamannya cuma sedikit, sempit maka akan sulit membuat anak didik kita merasa betah dan nyaman di sekolah dan di ruang kelas.

Kalau kita lihat di daerah pedesaan peserta didik yang membantu 'orang tuanya berladang, berkebun, jualan, nelayan sehingga kalau sekolah sampai sore dampaknya akan mempengaruhi ekonomi keluarga juga.


Prosedur Penyusunan Kuesioner (Angket)




Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan kuesioner sebagai teknik  yang dipilih untuk mengumpulkan data. Kuesioner (Angket) memang mempunyai banyak kebaikan sebagai instrumen pengumpul data.

Menurut Suharsimi Arikunto (2010:268), sebelum kuesioner disusun, maka harus dilalui prosedur:

a.    Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan kuesioner;

b.    Mengidentifikasikan variabel yang akan dijadikan sasaran kuesioner;

c.    Menjabarkan setiap variabel menjadi sub-variabel yang lebih spesifik dan tunggal;

d.    Menentukan jenis data yang akan dikumpulkan, sekaligus untuk menentukan teknik analisisnya.

            Penentuan sampel sebagai responden kuesioner perlu mendapat perhatian pula. Jika salah menentukan sampel, informasi yang kita butuhkan kemungkinan tidak kita peroleh secara maksimal. Contoh, kita menghendaki data tentang khasiat obat-obatan tradisional, termasuk jamu yang diminum. Kita sebarkan angket kepada sejumlah gadis yang kita perkirakan senang minum jamu supaya kelangsingannya terjamin. Ternyata setelah angket kembali terkumpul, banyak item yang masih kosong tidak dijawab karena responden yang kita pilih ternyata tidak suka rasa pahit. Mereka memilih tubuh tidak ramping daripada harus setiap kali minum jamu.

            Untuk memperoleh kuesioner dengan hasil mantap adalah dengan proses uji coba. Sampel yang diambil untuk keperluan uji coba haruslah sampel dari populasi di mana sampel penelitian akan diambil. Dalam uji coba, responden diberi kesempatan untuk memberikan saran-saran perbaikan bagi kuesioner yang diujicobakan itu. Situasi sewaktu uji coba dilaksanakan harus sama dengan situasi kapan penelitian yang sesungguhnya dilaksanakan (Suharsimi Arikunto, 2010:269).



Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan kuesioner, antara lain:

a.  Pertanyaan-pertanyaan yang disusun dalam kuesioner juga harus sesuai dengan variebel-veriabel penelitian, yang biasanya sudah didefinisikan dalam definisi operasional, yang mengandung indikator-indikator penelitian sesuai dengan permasalahan penelitian.

b. Tiap   pertanyaan   dalam   kuesiner   adalah   bagian   dari   penjabaran  definisi

     operasional, sehingga dapat dianalisis dengan tepat untuk menjawab permasalahan penelitian.

c.  Pakailah bahasa yang sederhana yang dapat dipahami oleh responden.

d.  Pakailah kalimat yang pendek yang mudah difahami.

e   Jangan terlampau cepat menganggap bahwa responden telah memiliki pengetahuan atau pengalaman tentang masalah penelitian.

f.   Lindungi harga diri responden.

g.  Bila ingin menanyakan  suatu  perasaan  atau  tanggapan  yang  menyenangkan  

     atau tidak menyenangkan, tanyakan terlebih dahulu hal-hal yang menyenangkan.

h. Pertimbangkan pertanyaan bersifat langsung atau tidak langsung.

i.  Tentukan pertanyaan terbuka atau tertutup.

j.  Masukkan hanya satu buah pikiran dalam tiap pertanyaan.

k. Rumusan pertanyaan jangan sampai memalukan responden.

    (Nasution, 2006:135-137)








ANALISIS DATA PENELITIAN KUALITATIF






A. Pendahuluan



Melakukan analisis data harus melalui sebuah metode penelitian yaitu metode penelitian data kualitatif. Analisa kualitatif merupakan beberapa cara dalam melakukan sebuah penelitian dalam bentuk kualitatif.

Analisis data merupakan upaya mencari dan menata data secara sistematis untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Proses analisis data dalam penelitian kualitatif dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul dari berbagai sumber, sebelum dilapangan, sewaktu dilapangan dan setelah dilapangan, baik itu data dari hasil wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya.

Penelitian kualitatif sifatnya induktif. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan yakni fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses atau penemuan yang tenjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan melaporkan serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut

Kesimpulan atau generalisasi kepada lebih luas tidak dilakukan, sebab proses yang sama dalam konteks lingkungan tertentu, tidak mungkin sama dalam konteks lingkungan yang lain baik waktu maupun tempat. Temuan penelitian dalam bentuk konsep, prinsip, hukum, teori dibangun dan dikembangkan dari lapangan bukan dari teori yang telah ada. Prosesnya induktif yaitu dari data yang terpisah namun saling berkaitan

Dalam penelitian kualitatif, data dapat diperoleh dari berbagai sumber dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh. Dengan pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi data tinggi sekali.

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data  yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2014: 89)

B. Proses Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan dan setelah selesai dilapangan. Menurut Nasution dalam Sugiyono (2014:89) analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian

Data kualitatif dihasilkan dari kegiatan penelitian kualitatif. Data kualitatif ini dapatdikelompokkan ke dalam data nominal dan data ordinal. Data kualitatif adalah data berbentuk kata, kalimat, skema, foto, diagram dan bukan data berbentuk angka. Data kualitatif dapatmemanfaatkan kode dan pengkodean. Unsur-unsur apakah yang tercakup dalam prosesanalisis data kualitatif itu

Proses analisis data kualitatif mencakup kegiatan pengulangan analisis, penyusunan memo,transkripsi, segmentasi, pengkodean, enumerasi, penciptaan sistem kategori secara hirarkis, penyajian hubungan-hubungan antara kategori-kategori, dan kegiatan penyusunan diagram. Kegiatan pengulangan analisis dilakukan dengan maksud untuk memperoleh kemampuan kognitif atas data secara lebih mendalam yaitu kemampuan mengetahui, kemampuanmemahami, kemampuan menerapkan, kemampuan menganalisis, kemampuan menarikkesimpulan, dan kemampuan mengevaluasi data secara lebih mendalam. Kegiatan penyusunan memo dilakukan dengan maksud untuk melakukan catatan reflektifuntuk memelihara penyaluran gagasan-gagasan dari data. Kegiatan transkripsi dilakukan dengan maksud untuk meletakkan atau menempatkan dati kedalam bentuk yang lebih mudah untuk dapat dianalisis.

Kegiatan segmentasi dilakukan dengan maksud untuk membagi data ke dalam cara-cara yang  bermakna dan kegiatan ini biasanya merupakan kegiatan penting untuk analisis dengan memanfaatkan komputer. Kegiatan pengkodean dilakukan dengan maksud untuk mengingat tema-tema, konsep-konsep, dan sebagainya yang terkandung dalam data. Kegiatan enumerasi dilakukan dengan maksud untuk melakukan kuantifikasi data untuk mengungkap frekuensi dari pola-pola atau tema-tema. Kegiatan penciptaan sistem kategori secara hirarkis dilakukan dengan maksud untuk mengatur pengetahuan sehingga pola-pora dan tema-tema itu dapat dihubungkan dengan  pola-pola dan tema-tema lain. Kegiatan penyajian hubungan-hubungan antara kategori-kategori dilakukan dengan maksud untuk menggambarkan hubungan-hubungan antara kategori-kategori yang telah dikode sehingga pola-pola dan tema-tema dapat diamati.

1. Analisis Sebelum di lapangan

            Analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan atau data sekunder yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian. Fokus penelitian masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama di lapangan. Kalau penelitian yang dirumuskan pada proposal tidak ada di lapangan, maka peneliti akan merubah fokusnya.

2. Analisis selama dilapangan Model Miles dan Huberman

Menurut Miles dan Huberman ada tiga metode dalam analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, model data, penarikan/verifikasi kesimpulan.

a)      Reduksi Data

Reduksi data merujuk pada proses pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, abstraksi, dan pentransformasian “data mentah” yang terjadi dalam catatan-catatan lapangan yang tertulis. Sebagaimana kita ketahui, reduksi data terjadi secara kontinu melalui kehidupan suatu proyek yang diorientasikan secara kualitatif. Faktanya, bahkan “sebelum” data secara aktual dikumpulkan.

Sebagaimana pengumpulan data berproses, terdapat beberapa episode selanjutnya dari reduksi data (membuat rangkuman, pengodean, membuat tema-tema, membuat pemisah-pemisah, menulis memo-memo). Dan reduksi data/pentransformasian proses terus-menerus setelah kerja lapangan, hingga laporan akhir lengkap.

Reduksi data bukanlah sesuatu yang terpisah dari analisis. Ia merupakan bagian dari analisis. Pilihan-pilihan peneliti potongan-potongan data untuk diberi kode, untuk ditarik ke luar,dan rangkuman pola-pola sejumlah potongan, apa pengembangan ceritanya, semua merupakan pilihan-pilihan analitis. Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang mempertajam, memilih, memokuskan, membuang, dan menyusun data dalam suatu cara di mana kesimpulan akhir dapat digambarkan dan diverifikasikan.

b)      Model Data/Penyajian Data

Penyajian data adalah suatu kegiatan ketika sekumpulan informasi disusun. Seperti yang disebutkan Emzir dengan melihat sebuah tayangan membantu kita memahami apa yang terjadi dan melakukan sesuatu analisis lanjutan atau tindakan yang didasarkan pada pemahaman tersebut. Bentuk penyajian data kualitatif :

1)   Teks Naratif : berbetuk catatan lapangan;

2)   Model tersebut mencakup berbagai jenis matrik, grafik, jaringan kerja, dan bagan. Semua dirancang untuk merakit informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu, bentuk yang praktis.

Pada umumnya teks tersebut terpencar-pencar, bagian demi bagian, tersusun kurang baik. Pada kondisi seperti itu peneliti mudah melakukan suatu kesalahan atau bertindak secara ceroboh dan sangat gegabah mengambil kesimpulan yang memihak, tersekat-sekat dan tidak berdasar. Kecenderungan kognitifnya adalah menyederhanakan informasi yang kompleks ke dalam kesatuan bentuk yang disederhanakan dan selektif atau konfigurasi yang mudah dipahami.

Peneliti selanjutnya dapat dengan baik menggambarkan kesimpulan yang dijustifikasikan dan bergerak ke analisis tahap berikutnya. Sebagaimana dengan reduksi data, menciptakan dan menggunakan model bukanlah sesuatu yang terpisah dari analisis. Merancang kolom dan baris dari suatu matrik untuk data kualitatif dan menentukan data yang mana, dalam bentuk yang mana, harus dimasukkan ke dalam sel yang mana adalah aktifitas analisis

c)      Penarikan Kesimpulan/Verifikasi Kesimpulan

Langkah ketiga dari aktivitas analisis adalah penarikan dan verifikasi kesimpulan. Dari permulaan pengumpulan data, peneliti kualitatif mulai memutuskan apakah “makna” sesuatu., mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur kausal, dan proporsi-proporsi. Peneliti yang kompeten dapat menangani kesimpulan-kesimpulan ini secara jelas, memelihara kejujuran dan kecurigaan.

Kesimpulan “akhir” mungkin tidak akan terjadi hingga pengumpulan data selesai, tergantung pada ukuran korpus dari catatan lapangan, pengodean, penyimpanan, dan metode-metode perbaikan yang digunakan, pengalaman peneliti, dan tuntutan dari penyandang dana, tetapi kesimpulan sering digambarkan sejak awal, bahkan ketika seorang peneliti menyatakan telah memproses secara induktif.



3. Analisis Data Selama dilapangan Model Spradley

            Analisis data selama dilapangan model Spradley  membaginya berdasarkan tahapan dalam penelitian kualitatif ( Sugiyono, 2009:253). Proses penelitian kualitatif setelah memasuki lapangan dimulai dengan menetapkan seseorang informan kunci yang merupakan informan yang berwibawa dan dipercaya mampu membukakan pintu kepada peneliti untuk memasuki obyek penelitian.

            Setelah itu perhatian peneliti pada obyek  penelitian dan memulai pengajuan pertanyaan deskriptif, dilanjutkan dengan analisis terhadap hasil wawancara.

            Berdasarkan hasil dari analisis wawancara selanjutnya peneliti melakukan analisis domain. Pada langkah ketujuh peneliti sudah menentukan fokus dan melakukan analisis taksonomi. Berdasarkan analisis taksonomi selanjutnya peneliti mengajukan pertanyaan kontras yang dilanjutkan dengan analisis komponensial.

            Hasil dari analisis komponensial selanjutnya peneliti menemukan tema-tema budaya, yang selanjutnya peneliti menuliskan laporan penelitian etnografi. Jadi proses penelitian berangkat dari yang luas, kemudian memfokus dan meluas lagi.

            Untuk lebih jelasnya dapat kita uraikan gambaran analisis selama dilapangan model  Spradley :

a. Analisis Domain

Setelah peneliti memasuki obyek penelitian yang berupa situasi sosial yang terdiri atas place, actor, dan avtivity (PPA), selanjutnya melaksakan observasi partisipan, mencatat hasil observasi dan wawancara, melakukan observasi deskriptif, maka langkah selanjutnya  melakukan analisis domain.

Hasilnya masih berupa pengetahuan atau pengertian di tingkat permukaan tentang berbagai domain atau kategori-kategori konseptual (kategori simbolis yang mencakup atau mewadahi sejumlah kategori atau simbol lain secara tertentu). Domain atau kategori simbolis tersebut memiliki makna atau pengertian yang lebih luas dari kategori atau simbol yang merangkum.

Analisis domain pada umumnya dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti atau obyek penelitian. Data diperoleh dari grand tour dan minitour question. Hasilnya berupa gambaran umum tentang obyek yang diteliti  yang sebelumnya belum pernah diteliti.

b. Analisis Taksonomi

Setelah peneliti melakukan analisis domain, sehingga ditemukan domain-domain atau kategori dari situasi sosial tertentu, mak selajutnya domain yang dipilih oleh peneliti dan selanjutnya ditetapkan sebagai fokus penelitian, perlu diperdalam lagi melalui pengumpulan data dilapangan.

Pengumpulan data dilakukan secara terus menerus melalui pengamatan, wawancara mendalam dan dokumentasi sehingga data yang terkumpul menjadi banyak.

Pada tahap analisis ini peneliti bisa mendalami domain dan sub-domain yang penting lewat konsultasi dengan bahan-bahan pustaka untuk memperoleh pemahaman lebih dalam.Analisis taksonomi adalah analisis yang tidak hanya penejelajahan umum, melainkan analisis yang memusatkan perhatian pada domain tertentu yang sangat berguna untuk menggambarkan fenomena atau masalah yang menjadi sasaran studi.

Jadi analisis taksonomi adalah analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul berdasarkan domain yang telah ditetapkan.

c. Analisis Komponensial

Pada analisis komponensial yang dicari untuk diorganisasikan dalam domain bukanlah keserupaan dalam domian, tetapi justru yang memiliki perbedaan yang kontras. Data ini dicari melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang terseleksi. Dengan teknik pengumpulan data yang bersifat triangulasi tersebut, sejumlah dimensi yang spesifik dan berbeda pada setiap elemen akan dapat ditemukan.

d. Analisis Tema Budaya

Analisa tema budaya sesungguhnya merupakan upaya mencari benang merah yang mengintegrasikan lintas domain yang ada. Dengan ditemukannya benang merah dari hasil analisis domain, taksonomi, kompenensial tersebut, maka selanjutnya akan dapat tersusun suatu konstruk bangunan situasi sosial/obyek penelitian yang sebelumnya masih gelap atau remang-remang dan setelah dilakukan penelitian, maka menjadi lebih terang dan jelas.

C. Kesimpulan

            Data kualitatif adalah jenis data yang diungkapkan dalam bentuk kalimat serta uraian-uraian, bahkan dapat berupa cerita pendek. Pada beberapa data tertentu, dapat menunjukkan perbedaan dalam bentuk jenjang atau tingkatan, walaupun tidak jelas batas-batasnya.

Analisis data penelitian kualitatif dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dikaji dimulai sejak sebelum peneliti memasuki lapangan, kemudian dilanjutkan pada saat peneliti berada di lapangan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas sehingga datanya jenuh. Kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau informasi baru, itu artinya kesimpulan sampai pada titik jenuh









ANALISIS DATA PENELITIAN KUALITATIF






A. Pendahuluan



Melakukan analisis data harus melalui sebuah metode penelitian yaitu metode penelitian data kualitatif. Analisa kualitatif merupakan beberapa cara dalam melakukan sebuah penelitian dalam bentuk kualitatif.

Analisis data merupakan upaya mencari dan menata data secara sistematis untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Proses analisis data dalam penelitian kualitatif dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul dari berbagai sumber, sebelum dilapangan, sewaktu dilapangan dan setelah dilapangan, baik itu data dari hasil wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya.

Penelitian kualitatif sifatnya induktif. Penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori, tetapi dimulai dari lapangan yakni fakta empiris. Peneliti terjun ke lapangan, mempelajari suatu proses atau penemuan yang tenjadi secara alami, mencatat, menganalisis, menafsirkan dan melaporkan serta menarik kesimpulan-kesimpulan dari proses tersebut

Kesimpulan atau generalisasi kepada lebih luas tidak dilakukan, sebab proses yang sama dalam konteks lingkungan tertentu, tidak mungkin sama dalam konteks lingkungan yang lain baik waktu maupun tempat. Temuan penelitian dalam bentuk konsep, prinsip, hukum, teori dibangun dan dikembangkan dari lapangan bukan dari teori yang telah ada. Prosesnya induktif yaitu dari data yang terpisah namun saling berkaitan

Dalam penelitian kualitatif, data dapat diperoleh dari berbagai sumber dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh. Dengan pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi data tinggi sekali.

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data  yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono, 2014: 89)

B. Proses Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan dan setelah selesai dilapangan. Menurut Nasution dalam Sugiyono (2014:89) analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah, sebelum terjun ke lapangan dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian

Data kualitatif dihasilkan dari kegiatan penelitian kualitatif. Data kualitatif ini dapatdikelompokkan ke dalam data nominal dan data ordinal. Data kualitatif adalah data berbentuk kata, kalimat, skema, foto, diagram dan bukan data berbentuk angka. Data kualitatif dapatmemanfaatkan kode dan pengkodean. Unsur-unsur apakah yang tercakup dalam prosesanalisis data kualitatif itu

Proses analisis data kualitatif mencakup kegiatan pengulangan analisis, penyusunan memo,transkripsi, segmentasi, pengkodean, enumerasi, penciptaan sistem kategori secara hirarkis, penyajian hubungan-hubungan antara kategori-kategori, dan kegiatan penyusunan diagram. Kegiatan pengulangan analisis dilakukan dengan maksud untuk memperoleh kemampuan kognitif atas data secara lebih mendalam yaitu kemampuan mengetahui, kemampuanmemahami, kemampuan menerapkan, kemampuan menganalisis, kemampuan menarikkesimpulan, dan kemampuan mengevaluasi data secara lebih mendalam. Kegiatan penyusunan memo dilakukan dengan maksud untuk melakukan catatan reflektifuntuk memelihara penyaluran gagasan-gagasan dari data. Kegiatan transkripsi dilakukan dengan maksud untuk meletakkan atau menempatkan dati kedalam bentuk yang lebih mudah untuk dapat dianalisis.

Kegiatan segmentasi dilakukan dengan maksud untuk membagi data ke dalam cara-cara yang  bermakna dan kegiatan ini biasanya merupakan kegiatan penting untuk analisis dengan memanfaatkan komputer. Kegiatan pengkodean dilakukan dengan maksud untuk mengingat tema-tema, konsep-konsep, dan sebagainya yang terkandung dalam data. Kegiatan enumerasi dilakukan dengan maksud untuk melakukan kuantifikasi data untuk mengungkap frekuensi dari pola-pola atau tema-tema. Kegiatan penciptaan sistem kategori secara hirarkis dilakukan dengan maksud untuk mengatur pengetahuan sehingga pola-pora dan tema-tema itu dapat dihubungkan dengan  pola-pola dan tema-tema lain. Kegiatan penyajian hubungan-hubungan antara kategori-kategori dilakukan dengan maksud untuk menggambarkan hubungan-hubungan antara kategori-kategori yang telah dikode sehingga pola-pola dan tema-tema dapat diamati.

1. Analisis Sebelum di lapangan

            Analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan atau data sekunder yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian. Fokus penelitian masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama di lapangan. Kalau penelitian yang dirumuskan pada proposal tidak ada di lapangan, maka peneliti akan merubah fokusnya.

2. Analisis selama dilapangan Model Miles dan Huberman

Menurut Miles dan Huberman ada tiga metode dalam analisis data kualitatif, yaitu reduksi data, model data, penarikan/verifikasi kesimpulan.

a)      Reduksi Data

Reduksi data merujuk pada proses pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, abstraksi, dan pentransformasian “data mentah” yang terjadi dalam catatan-catatan lapangan yang tertulis. Sebagaimana kita ketahui, reduksi data terjadi secara kontinu melalui kehidupan suatu proyek yang diorientasikan secara kualitatif. Faktanya, bahkan “sebelum” data secara aktual dikumpulkan.

Sebagaimana pengumpulan data berproses, terdapat beberapa episode selanjutnya dari reduksi data (membuat rangkuman, pengodean, membuat tema-tema, membuat pemisah-pemisah, menulis memo-memo). Dan reduksi data/pentransformasian proses terus-menerus setelah kerja lapangan, hingga laporan akhir lengkap.

Reduksi data bukanlah sesuatu yang terpisah dari analisis. Ia merupakan bagian dari analisis. Pilihan-pilihan peneliti potongan-potongan data untuk diberi kode, untuk ditarik ke luar,dan rangkuman pola-pola sejumlah potongan, apa pengembangan ceritanya, semua merupakan pilihan-pilihan analitis. Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang mempertajam, memilih, memokuskan, membuang, dan menyusun data dalam suatu cara di mana kesimpulan akhir dapat digambarkan dan diverifikasikan.

b)      Model Data/Penyajian Data

Penyajian data adalah suatu kegiatan ketika sekumpulan informasi disusun. Seperti yang disebutkan Emzir dengan melihat sebuah tayangan membantu kita memahami apa yang terjadi dan melakukan sesuatu analisis lanjutan atau tindakan yang didasarkan pada pemahaman tersebut. Bentuk penyajian data kualitatif :

1)   Teks Naratif : berbetuk catatan lapangan;

2)   Model tersebut mencakup berbagai jenis matrik, grafik, jaringan kerja, dan bagan. Semua dirancang untuk merakit informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu, bentuk yang praktis.

Pada umumnya teks tersebut terpencar-pencar, bagian demi bagian, tersusun kurang baik. Pada kondisi seperti itu peneliti mudah melakukan suatu kesalahan atau bertindak secara ceroboh dan sangat gegabah mengambil kesimpulan yang memihak, tersekat-sekat dan tidak berdasar. Kecenderungan kognitifnya adalah menyederhanakan informasi yang kompleks ke dalam kesatuan bentuk yang disederhanakan dan selektif atau konfigurasi yang mudah dipahami.

Peneliti selanjutnya dapat dengan baik menggambarkan kesimpulan yang dijustifikasikan dan bergerak ke analisis tahap berikutnya. Sebagaimana dengan reduksi data, menciptakan dan menggunakan model bukanlah sesuatu yang terpisah dari analisis. Merancang kolom dan baris dari suatu matrik untuk data kualitatif dan menentukan data yang mana, dalam bentuk yang mana, harus dimasukkan ke dalam sel yang mana adalah aktifitas analisis

c)      Penarikan Kesimpulan/Verifikasi Kesimpulan

Langkah ketiga dari aktivitas analisis adalah penarikan dan verifikasi kesimpulan. Dari permulaan pengumpulan data, peneliti kualitatif mulai memutuskan apakah “makna” sesuatu., mencatat keteraturan, pola-pola, penjelasan, konfigurasi yang mungkin, alur kausal, dan proporsi-proporsi. Peneliti yang kompeten dapat menangani kesimpulan-kesimpulan ini secara jelas, memelihara kejujuran dan kecurigaan.

Kesimpulan “akhir” mungkin tidak akan terjadi hingga pengumpulan data selesai, tergantung pada ukuran korpus dari catatan lapangan, pengodean, penyimpanan, dan metode-metode perbaikan yang digunakan, pengalaman peneliti, dan tuntutan dari penyandang dana, tetapi kesimpulan sering digambarkan sejak awal, bahkan ketika seorang peneliti menyatakan telah memproses secara induktif.



3. Analisis Data Selama dilapangan Model Spradley

            Analisis data selama dilapangan model Spradley  membaginya berdasarkan tahapan dalam penelitian kualitatif ( Sugiyono, 2009:253). Proses penelitian kualitatif setelah memasuki lapangan dimulai dengan menetapkan seseorang informan kunci yang merupakan informan yang berwibawa dan dipercaya mampu membukakan pintu kepada peneliti untuk memasuki obyek penelitian.

            Setelah itu perhatian peneliti pada obyek  penelitian dan memulai pengajuan pertanyaan deskriptif, dilanjutkan dengan analisis terhadap hasil wawancara.

            Berdasarkan hasil dari analisis wawancara selanjutnya peneliti melakukan analisis domain. Pada langkah ketujuh peneliti sudah menentukan fokus dan melakukan analisis taksonomi. Berdasarkan analisis taksonomi selanjutnya peneliti mengajukan pertanyaan kontras yang dilanjutkan dengan analisis komponensial.

            Hasil dari analisis komponensial selanjutnya peneliti menemukan tema-tema budaya, yang selanjutnya peneliti menuliskan laporan penelitian etnografi. Jadi proses penelitian berangkat dari yang luas, kemudian memfokus dan meluas lagi.

            Untuk lebih jelasnya dapat kita uraikan gambaran analisis selama dilapangan model  Spradley :

a. Analisis Domain

Setelah peneliti memasuki obyek penelitian yang berupa situasi sosial yang terdiri atas place, actor, dan avtivity (PPA), selanjutnya melaksakan observasi partisipan, mencatat hasil observasi dan wawancara, melakukan observasi deskriptif, maka langkah selanjutnya  melakukan analisis domain.

Hasilnya masih berupa pengetahuan atau pengertian di tingkat permukaan tentang berbagai domain atau kategori-kategori konseptual (kategori simbolis yang mencakup atau mewadahi sejumlah kategori atau simbol lain secara tertentu). Domain atau kategori simbolis tersebut memiliki makna atau pengertian yang lebih luas dari kategori atau simbol yang merangkum.

Analisis domain pada umumnya dilakukan untuk memperoleh gambaran yang umum dan menyeluruh tentang situasi sosial yang diteliti atau obyek penelitian. Data diperoleh dari grand tour dan minitour question. Hasilnya berupa gambaran umum tentang obyek yang diteliti  yang sebelumnya belum pernah diteliti.

b. Analisis Taksonomi

Setelah peneliti melakukan analisis domain, sehingga ditemukan domain-domain atau kategori dari situasi sosial tertentu, mak selajutnya domain yang dipilih oleh peneliti dan selanjutnya ditetapkan sebagai fokus penelitian, perlu diperdalam lagi melalui pengumpulan data dilapangan.

Pengumpulan data dilakukan secara terus menerus melalui pengamatan, wawancara mendalam dan dokumentasi sehingga data yang terkumpul menjadi banyak.

Pada tahap analisis ini peneliti bisa mendalami domain dan sub-domain yang penting lewat konsultasi dengan bahan-bahan pustaka untuk memperoleh pemahaman lebih dalam.Analisis taksonomi adalah analisis yang tidak hanya penejelajahan umum, melainkan analisis yang memusatkan perhatian pada domain tertentu yang sangat berguna untuk menggambarkan fenomena atau masalah yang menjadi sasaran studi.

Jadi analisis taksonomi adalah analisis terhadap keseluruhan data yang terkumpul berdasarkan domain yang telah ditetapkan.

c. Analisis Komponensial

Pada analisis komponensial yang dicari untuk diorganisasikan dalam domain bukanlah keserupaan dalam domian, tetapi justru yang memiliki perbedaan yang kontras. Data ini dicari melalui observasi, wawancara dan dokumentasi yang terseleksi. Dengan teknik pengumpulan data yang bersifat triangulasi tersebut, sejumlah dimensi yang spesifik dan berbeda pada setiap elemen akan dapat ditemukan.

d. Analisis Tema Budaya

Analisa tema budaya sesungguhnya merupakan upaya mencari benang merah yang mengintegrasikan lintas domain yang ada. Dengan ditemukannya benang merah dari hasil analisis domain, taksonomi, kompenensial tersebut, maka selanjutnya akan dapat tersusun suatu konstruk bangunan situasi sosial/obyek penelitian yang sebelumnya masih gelap atau remang-remang dan setelah dilakukan penelitian, maka menjadi lebih terang dan jelas.

C. Kesimpulan

            Data kualitatif adalah jenis data yang diungkapkan dalam bentuk kalimat serta uraian-uraian, bahkan dapat berupa cerita pendek. Pada beberapa data tertentu, dapat menunjukkan perbedaan dalam bentuk jenjang atau tingkatan, walaupun tidak jelas batas-batasnya.

Analisis data penelitian kualitatif dilakukan dengan mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan mana yang akan dikaji dimulai sejak sebelum peneliti memasuki lapangan, kemudian dilanjutkan pada saat peneliti berada di lapangan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas sehingga datanya jenuh. Kejenuhan data ditandai dengan tidak diperolehnya lagi data atau informasi baru, itu artinya kesimpulan sampai pada titik jenuh