Tampilkan postingan dengan label Opini Pendidikan. Tampilkan semua postingan

PERANAN GURU ABAD 21



Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik.
Seorang guru harus mengutamakan proses dalam pembelajaran adalah mengembalikan hakikat dari pendidikan itu sendiri, yaitu untuk mendapatkan ilmu yang berguna tidak sekadar nilai dan ijazah yang bisa dibuat. Jadi semua pihak, mulai dari pemerintah sampai masyarakat atau peserta didik itu sendiri harus berfikiran dan mendukung bahwa proses belajar sangatlah penting, mereka harus percaya bahwa ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan di sekolah akan berguna untuk masa depan mereka nantinya.Membekali peserta didik kita dengan keterampilan di sekolah harus membekali dengan keterampilan yang sesuai dengan bakat dan minat peserta didik tersebut.
Peranan guru abad 21 diharapkan mampu menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang bertumpu pada 4 pilar belajar yakni belajar untuk mengetahui, belajar untuk bekerja, belajar untuk menjadi, belajar untuk hidup bersama.
Guru saat ini tidak hanya harus menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga harus mengetahui disiplin ilmu pengetahuan yang ia tekuni.  Guru juga harus mengenal karakteristik peserta didik sebagai pribadi yang sedang dalam perkembangan. Disamping itu juga guru harus memahami pendidikan sebagai proses pembudayaan yang mau tidak mau guru harus mampu memilih model belajar. Bahkan tidak kalah pentingnya adalah tentang peranan guru yang berhubungan dengan aktivitas pengajaran dan administrasi pendidikan yang selalu menjadi alasan klasik apabila berhubungan dengan adanya kegiatan supervisi.
Belajar untuk mengetahui dimana tugas utama guru  adalah merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Guru dituntut untuk memiliki pengetahuan dan ketrampilan teknis mengajar, disamping menguasai ilmu atau bahan yang diajarkan. Guru harus mampu menempatkan dirinya sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan ganda sebagai tempat berdialog bagi peserta didikya dalam rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan.
Belajar untuk bekerja, dimana  seorang guru tidak sekedar untuk mengetahui, tetapi lebih jauh untuk dapat lebih terampil lagi berbuat atau mengerjakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan. Peserta didik diajarkan untuk melakukan sesuatu dalam situasi yang nyata tidak terbatas pada penguasaan keterampilan saja melainkan juga terampil dalam berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain, mengelola dan mengatasi suatu konflik. Suatu saat sangat dimungkinkan mampu mencetak generasi muda yang cerdas dalam bekerja dan mempunyai kemampuan untuk berinovasi.
                Sedangkan belajar untuk menjadi, dimana seorang guru dalam proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai dengan ketentuan yang berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri. Bagi peserta didik yang agresif, akan menemukan jati dirinya dan apabila diberi suatu kesempatan maka ia cukup luas untuk berkreasi. Sedangkan bagi peserta didik  yang pasif, peran guru sebagai penunjuk arah untuk menumbuhkembangkan potensi diri nya secara utuh dan maksimal.
            Belajar untuk hidup bersama, tidak terlepas daripada kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, dan saling  memberi. Kondisi seperti inilah yang sangat memungkinkan tumbuhnya sikap saling pengertian antar suku, agama dan ras. Dengan kemampuan yang dimiliki guru tersebut tidaklah mengherankan bahwa di masyarakat banyak tenaga guru dilibatkan dalam berbagai kegiatan. Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, adanya keterbukaan, memberi dan menerima perlu dikembangkan disekolah. Sebagai hasil dari sebuah proses pendidikan tentunya dapat dijadikan sebagai bekal untuk mampu berperan aktif dalam lingkungan di mana individu tersebut berada, dan sekaligus mampu menempatkan diri sesuai dengan perannya. Pemahaman tentang peran diri dan orang lain dalam kelompok belajar merupakan bekal dalam bersosialisasi.
Guru merupakan ujung tombak dalam kegiatan pembelajaran didalam kelas. Tugas profesionalisme guru juga mencakup tugas terhadap diri  pribadi, terhadap keluarga, dan terutama tugas dalam lingkungan masyarakat dimana guru tersebut tinggal. Tugas-tugas tersebut tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang guru, karena bagaimanapun juga sosok kehidupan seorang guru adalah merupakan sosok utama yang berkaitan dengan lingkungan dimana guru tinggal, sehingga guru harus mempunyai pribadi yang rangkap yang harus dapat diperankan dimana guru itu berada.
Agar dapat berhasil sebagai pengajar, maka seorang guru memang tidak terlepas  dari keinginan  individu seorang guru tersebut.  Dalam meningkatkan kompetensinya sebagai seorang pengajar guru juga harus dapat meluangkan waktunya untuk mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh, mengikuti seminar ataupun lokarkarya. Karena semua itu dapat diharapkan seorang guru dapat mengembangkan kesadarannya tentang mengajar yang meliputi strategi, teknik maupun penggunaan berbagai metode dalam mengajar. Tentunya juga hal tersebut harus di dukung oleh lembaga satuan pendidikan dimana ia bertugas.Guru harus mengarahkan tujuan pendidikannya secara jelas menuju hasil maksimal. Segala potensi yang dimiliki harus dituangkan dan diterapkan, sehingga peserta didik dapat mengikuti kegiatan pembelajaran secara baik dan dapat menerima segala penjelasan yang diberikan.
            Peningkatan mutu proses pengajaran yang harus dimiliki oleh guru juga bukan hanya berupa sebuah keinginan dan motivasi yang kuat saja, namun semua itu juga perlu didorong oleh sebuah pengambil kebijakan untuk peningkatan mutu proses pembelajaran yang bermakna dalam hal kapasitas pengadaan sarana pendukung kegiatan pebelajaran sekolah. Tidak ada lagi kita temukan sarana pendukung kegiatan pembelajaran bertahun-tahun masih dalam kotak karena tidak dipergunakan.
Akhir kata sebagai pengembang profesi seorang guru harus menyadari bahwa tanggung jawab yang lebih kuat dalam menjalankan peran dan fungsinya diperlukan sebuah komitmen yang dapat memberikan pesan ilmiah secara moral agar seorang guru benar-benar berpikir dan dan bertindak sesuai profesi sesuai keahlian yang dimiliki. Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan sangat ditentukan kesiapan guru dalam mempersiapkan peserta didiknya melalui kegiatan pembelajaran. Semoga !
Oleh : Uray Iskandar, S.Pd.M.Pd
(Ketua Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia Kabupaten Sambas)





BANYAK JALAN MENUJU SAMBAS HEBAT




            Sekarang banyaknya intrik yang berbau politik untuk mengganti A ataupun mengganti B dengan berkampanye lewat sosial media. Apabila kita cermati di Kabupaten Sambas pada zaman kerajaan dahulu sudah termashur ke seluruh pelosok negeri, bisa bangkit kembali jaya dengan istilah zaman now Sambas Hebat.
Wilayah administratif  Kabupaten Sambas  terdiri dari 19 kecamatan, dua diantaranya yaitu Kecamatan Sajingan Besar  dan Kecamatan Paloh merupakan kawasan perbatasan dengan Sarawak Malaysia. Apabila dilihat dari dua kecamatan tersebut yang merupakan pintu perbatasan, sudah tentunya secara kasat mata akan memberikan dampak yang luar biasa bagi kehidupan masyarakat. Tentunya kita juga tidak bisa berbuat serampangan tentang pengelolaan perbatasan tersebut, mengingat koridor pusat masih dominan pada wailayah tersebut.
Untuk menuju jalan Sambas Hebat kita juga bisa mengembangkan asset budaya dan pariwisata yang belum optimal kita kembangkan untuk menarik turis dari luar. Apakah itu peninggalan sejarah seperti Makam Sultan, Mesjid maupun Keraton Sambas. Sedangkan obyek wisata kita sebenarnya tidak kalah indahnya dengan obyek wisata dunia luar yang di pulau Jawa, apabila dikelola secara optimal. Air terjun di Sajingan Besar masih orisinal atau belum sama sekali kita kembangkan untuk dinikmati oleh turis baik lokal maupun dari luar. Sekarang jalan menuju perbatasan memang sudah begitu mulus, tinggal selangkah lagi yakni jalan menuju lokasi air terjun yang perlu di garap untuk menambah PAD Kabupaten Sambas, jikalau memang memungkinkan karena mengingat letaknya di daerah perbatasan.
Begitu juga dengan wilayah Kecamatan Paloh yakni Desa Temajok dengan pantai yang menawan, perlu di kelola secara optimal, terutama sarana jalan untuk menuju ke obyek wisata tersebut perlu dukungan pemerintah daerah dalam menggali potensi wisata.
Apabila pintu perbatasan tempat masuk dan keluarnya orang dari luar atau manca negara, apakah kita sudah mempersiapkan diri dalam hal ini berbenah untuk menjamu ataupun memberikan rasa keamanan dan kenyamanan apabila mereka datang  berkunjung dan merasa betah untuk ke Sambas. Tentunya tidak salah para penggiat Sambas Hebat untuk memikirkan semua itu apa yang harus kita lakukan menghadapi pintu perbatasan yang sudah secara resmi menjadi lalu lalang turis. Tidaklah mungkin kita warga Sambas hanya sekedar penonton dan bahkan menyesalinya saja, karena bisa saja Singkawang yang akan di untungkan oleh dibukanya jalur resmi tersebut. Mengingat fasilitas sarana dan prasarana di kota tersebut sangat menjanjikan baik obyek wisatanya maupun hotel huniannya.
Banyak jalan menuju Sambas Hebat, mengingat setiap kecamatan kita ketahui mempunyai perbedaan tentang hasil buminya. Hal itu perlu di dukung dengan membuat produk unggulan bagi setiap desa, sehingga akan dapat menopang ekonomi kerakyatan masyarakat pedesaan.  Tidak ada satupun yang bisa kita banggakan lagi jikalau pemerintah kurang menggali ataupun memperhatikan secara serius tentang perekonomian masyarakat pedesaan. Kita merasa bersyukur bahwa kekompakan mereka sudah terbentuk dalam suatu wadah kelompok tani yang perlu dibimbing, dilatih dan diberikan bekal pengetahuan lainnya supaya anak-anak mereka tetap sekolah sampai jenjang yang lebih tinggi, bukan menjadi kuli di negeri orang seberang.
Selain itu kita juga memiliki sumber daya manusia yang kritis, apabila dimanfaatkan dengan baik akan dapat menopang pola pikir untuk mengisi pembangunan. Tidak kita sangkal lagi, dimana kita berjalan pada setiap kecamatan kita akan menemukan banyaknya jalan yang hancur. Apakah masyarakat kita membiarkan jalan-jalan itu hancur, dan tidak mau untuk sekedar bergotong royong mengalirkan air yang tersumbat, atau sekedar menimbun jalan yang berlobang dengan satu ember pasir dan semen.
Ini hanya sebuah tulisan yang penulis buat untuk menggugah bahwa masyarakat Sambas masih bisa bangkit untuk menuju Sambas Hebat. Penulis  menyadari bahwa dalam mengkritik sesuatu perlunya mengetahui cara-cara tertentu agar kritik tersebut berkualitas tidak semata-mata karena kebencian dan tidak melenceng dari pembahasan.  Kritik harus dibedakan dengan mengecam, mencaci dan menjelek-jelekkan, ingat pengertian dasar kritik adalah menilai. Tentunya jikalaulah kita menilai sesuatu itu harus obyektif.
Kita lihat lagi dimana-mana orang selalu ingin tampil luar biasa dalam mengelola asset wisata, meskipun hanya sekedar untuk rekreasi melepas lelah. Memang tidak begitu mudah dituliskan dalam bentuk kata-kata segala ide dan peluang yang ada, karena perlu di analisis lagi tentang kekuatan, kelemahan peluang maupun ancaman dan tantangannya.
            Masih banyak obyek wisata yang laku untuk dijual keluar, misalnya obyek wisata Danau Sebedang, pantai Tanjung Batu Pemangkat yang jua perlu menjadi sebuah alternatif untuk diperhatikan dan perlu uluran tangan dalam mengembangkannya kedepan.
            Kalau kita melihat keluar yang sudah lama berkecimpung sebagai kota wisata di Yokyakarta. Bagaimana kota tersebut menjual Borobudur yang seolah-olah kita menganggap itu termasuk wilayah Yokyakarta. Kalaulah demikian berarti kita bisa mencontek jurus seperti itu. Orang dari luar (Kuching) menginap di Sambas untuk pergi jalan-jalan ke Singkawang. Tentunya itu tidak mudah kita terima, karena kita masih ada genggsi daerah yang masih begitu kental dan kuat seolah-olah mengabaikan wisata yang ada di Kabupaten Sambas.
             Masih banyak jalan menuju Sambas Hebat, kita kemas obyek wisata Budaya yang di agendakan secara tetap setiap tahunnya. Namun hal ini belum kita gali, budaya apa yang bisa kita kemas untuk menarik turis ramai-ramai menuju Sambas. Hal ini tidak kalah perannya dari lembaga perguruan tinggi ataupun instansi terkait untuk dapat menggali dan mengembangkannya.
Jalan menuju Sambas Hebat juga perlu adanya kecanggihan mengelola teknologi.  Sistem dan regulasi apapun, tidak akan memberi manfaat maksimal jika pribadi-pribadi masyarakat  tidak memiliki akhlakul karimah. Tujuan akhlak adalah mencapai kebahagiaan hidup umat manusia dalam kehidupannya. Tantangan dan ancaman meraih akhlaqul karimah dalam dunia modern yakni dengan cara menegakkan akhlaqul karimah dalam dunia keilmuan dan dunia profesi.  Dalam menyongsong kemajuan zaman, masyarakat Sambas harus memiliki moral yang berkualitas unggul. Semoga !
Oleh : Uray Iskandar, S.Pd,M.Pd
(Ketua Asosiasi Pengawas Sekolah Indonesia Kabupaten Sambas)











BELAJAR MENJADI PEMIMPIN PERUBAHAN



Untuk menjadi seorang pemimpin harus memiliki semangat untuk terus menjaga sikap fokus atau selalu konsisten pada tujuan yang ingin dicapai. Karena kitahui bahwa pemimpin adalah seorang individu yang dapat diterima oleh orang lain sebagai pemimpin. Pemimpin adalah orang yang berada di barisan paling depan yang diharapkan para pengikutnya untuk mengarahkan mereka, sehingga tidaklah mengherankan apabila pemimpin yang pada umumnya sangat pandai untuk memotivasi diri sendiri dan memotivasi para pengikutnya. Dukungan dari bawah hanya akan muncul secara berkelanjutan ketika pimpinannya benar-benar cerdas atau unggul. Selain itu dengan motivasi kerja seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi peningkatan kinerja dalam sebuah organisasi.
Seorang pemimpin tidak hanya sebagai pengambil kebijakan dalam sebuah organisasi, namun ia harus sebagai agen perubahan dan pelaku dalam organisasi tersebut (Hayat 2017). Dengan demkian sorang pemimpin perubahan harus berani memikirkan hari esok untuk sebuah kesuksesan jangka panjang. Pemimpin tidak harus memiliki kecerdasan intelektual yang sangat tinggi, minimal dapat berpikir secara logis, kritis dan sistimatis tentang apa tujuan yang ingin di capai oleh organisasi.
 Karena itulah yang akan menunjukkan bahwa identitas dirinya sebagai orang yang berbeda dengan kebanyakan manusia dan layak menjadi seorang pemimpin. Untuk mempertajam kecerdasan intelektual, seorang pemimpin harus mempunyai pengetahuan yang luas, baik pengetahuan yang dia peroleh dari para relasinya ataupun pengetahuan yang dia peroleh dari internet, koran, majalah atau bahkan buku bacaan untuk menjadikan referensi terhadap pola pikir dan untuk menjadi sebuah pertimbangan dalam pengambilan keputusannya.
Perubahan adalah suatu yang pasti terjadi dalam kehidupan dan mempunyai pengaruh yang sangat hebat di dalam masyarakat. Dalam masyarakat selalu ada perasaan yang tidak puas terhadap keadaan, dan harus ada suatu keinginan untuk mencapai perbaikan dengan perubahan keadaan tersebut. Maka dalam hal ini tentunya harus ada seorang pemimpin atau sekelompok orang yang dianggap mampu memimpin masyarakat tersebut untuk mengadakan suatu perubahan. Pemimpin tersebut dapat menampung keinginan-keinginan tersebut, untuk kemudian merumuskan serta menegaskan rasa tidak puas dari masyarakat tersebut, kemudian untuk dapat dijadikan program dan acuan serta arah bagi geraknya masyarakat.
Untuk belajar menjadi seorang pemimpin perubahan selalu dihadapkan pada dua pilihan yakni yang pertama kita harus dapat mengelola perubahan itu dengan sebaik mungkin. Tentunya dalam hal ini masih ada yang tidak sependapat atau menjadi penentang dalam sebuah kebijakan. Mereka yang menjadi penentang tidak perlu dimusuhi atau disingkirkan karena mereka belum bersedia untuk keluar pada zoana aman dan menyenangkan yang selama ini mereka nikmati. Namun untuk membuktikan kepada mereka kita perlu suatu pendekatan humanistik supaya lambat laun ia dapat menerima perubahan tersebut.
Sedangkan yang kedua adalah adanya hal yang sanagat mendesak untuk suatu kemajuan dalam organisasi. Kemendesakan inilah juga yang banyak mendapat tantangan dari orang-orang yang tidak akan mau mengikuti suatu perubahan. Seorang pemimpin perubahan ia dapat menjelaskan mengapa perubahan perlu dilakukan, apa keuntungan dari perubahan dan apa kerugiannya jikalau tidak melakukan perubahan.
            Belajar menjadi pemimpin perubahan akan selalu ingin melayani bukan untuk dilayani. Keberadaan seorang pemimpin perubahan selalu menjadi motivasi bagi pegawai bawahannya untuk melaksanakan tugas dan fungsinya dengan sebaik-baiknya pula. Seorang pemimpin perubahan juga harus bisa metransformasikan segala kebikan dalam organisasi dan melepaskan kebiasaan-kebiasan buruk dalam suatu organisasi. Seorang pemimpin perubahan juga harus konsisten pada standar operasional pelayanan yang sudah ditentukan untuk tetap konsisten melaksanakannya.
            Apalagi dalam hal mengadakan perubahan secara komprehensif, seorang pemimpin perubahan tidak bisa melakukannya sendirian. Untuk itu harus seluruh komponen yang terlibat didalamnya harus mendukung dan adanya kerjasama dalam melakukan perubahan itu. Kita tahu bahwa kerjasama yang kuat dan koalisi yang baik dapat memeberikan keseimbangan kinerja untuk mencapai tim kerja yang solid.
            Belajar menjadi pemimpin perubahan harus konsisten dan konsekwen dalam mengelola perubahan itu. Perubahan akan gagal apabila adanya pergeseran prioritas dari seorang pemimpin dalam menanamkan budaya kerja yang harus diadakan perubahan. Mengingat perilaku seseorang itu sulit untuk berubah jikalau tidak adanya tekanan maupun aturan yang mengikat pada organisasi tersebut. Namun bukan hanya pihak internal saja yang harus diadakan perubahan, tetapi dari segi pelayanan dalam hal ini pihak ekternal juga perlu kita adakan perubahan. Orang akan senang apabila kita memberikan pelayan itu dengan mudah, cepat, murah dan terukur. Inilah yang kadangkala menjadi hambatan dalam sebuah organisasi, hal yang mudah malah dipersulit dan diperlambat.
Belajar menjadi pemimpin peubahan harus memiliki kredibilitas dan reputasi yang hebat, agar ia mampu memberikan inspirasi dan motivasi kepada setiap orang. Pemimpin perubahan juga harus mampu memotivasi dan menginspirasi setiap orang dalam setiap detik kehidupan mereka, untuk bersemangat dan bangkit bersama dengan perubahan yang telah direncanakan. Pemimpin perubahan harus membuat setiap orang menyadari bahwa perubahan itu penting, untuk mengubah hal-hal yang tertinggal dengan hal-hal yang baru sesuai dengan peradaban.
Tidak mengherankan, apabila seorang pemimpin perubahan juga harus memiliki keterampilan untuk dapat mengenali perubahan-perubahan penting, serta mampu mengambil tempat di dalam hati setiap orang, agar semua orang bisa saling menyatu dan saling berempati, untuk membawa perubahan ke arah yang lebih memberi manfaat  bagi setiap manusia. Seorang pemimpin perubahan juga harus bisa membangkitkan semangat dan gairah perubahan dari setiap orang untuk menyesuaikan diri dengan lebih cepat, serta berjuang keras untuk mendapatkan hasil perubahan yang lebih baik dari sebuah rencana yang ada.
Untuk itu, pemimpin perubahan harus duduk bersama dengan semua kekuatan sumber daya manusianya, untuk berbicara tentang perubahan-perubahan itu dengan cara-cara penuh inspirasi dan profesional. Jangan sampai tujuan tercapai pemimpin meninggalkan kelompok orang-orang yang mendukung perubahan tersebut. Dengan demikian belajar menjadi pemimpin perubahan harus selalu menggunakan pola berpikir yang lugas dan jelas serta tegas, agar setiap orang tidak terjebak dalam cara berpikir yang merumitkan, sehingga makna perubahan itu tidak menjadi kabur sesuai dengan sebuah cita-cita ataupun tujuan yang ditentukan sebelumnya. ( Uray Iskandar Dinas Pendidikan Kab. Sambas)

MEMBIASAKAN YANG BENAR



Kebenaran adalah semua yang ada berupa fakta atau keyakinan yang dapat diterima sebagai sesuatu yang benar. Keberadaan yang benar dan sesuatu yang benar dari dua pilihan penilaian terhadap suatu hal yang diberikan seseorang setelah melalui serangkaian pertimbangan yang didasarkan pada suatu standar. Kebenaran juga berarti sesuai sebagaimana adanya, tidak salah apa yang dikatakan bahkan cocok dengan keadaan yang sesungguhnya.
Kebenaran itu adalah semua yang ada pada isi alam ini atau alam semesta dengan segala zat yang ada, segala bentuk dan segala sifat  yang melekat padanya. Keberadaannya tidak dapat dibantah atau dinafikan oleh siapapun.  Makanya kita wajib mengakuinya sampai pada tingkat tidak ada keraguan lagi dihati setiap manusia.
            Sedangkan kebiasaan adalah sesuatu secara terus-menerus dalam kegiatan yang sama. Suatu kegiatan bisa menjadi kebiasaan karena memberikan rasa nyaman bagi setiap orang, sehingga selalu  memberikan efek bagi yang melakukannya. Kebiasaan tidak hanya dilakukan oleh setiap individu namun menjalar kepada banyak orang bahkan dalam satu daerah akan membentuk adat. Menjadi adat karena dilakukan secara turun-temurun dari beberapa generasi. Biasanya sebuah kebiasaan yang menjadi adat karena berdasarkan pada kepercayaan yang dipegang oleh setiap masyarakat.
            Dalam pergaulan masyarakat kita bahwa setiap pertemuan selalu berjabat tangan dengan menggunakan tangan kanan. Terus bahkan setiap menunjuk sesuatu selalu menggunakan tangan sebelah kanan. Hal tersebut karena sudah menjadi hal yang biasa, sehingga secara spontanitas tidak menjadi perhatian khusus bagi kita semua.
            Membiasakan hal yang benar memang pada dasarnya harus selalu dimulai dari ruang lingkup rumah tangga. Dari hal yang kecil misalnya kita harus membuang sampah pada tempatnya. Apabila hal itu sudah menjadi kebiasaan maka dimanapun kita berada akan menjadi hal yang biasa membuang sampah pada tempatnya.
            Sebagai sorang pelajar di sekolah misalnya selalu datang ke sekolah tepat waktu, tidak terlambat. Atau ketika ujian selalu mengerjakan soal sesuai dengan perintah atau petunjuk yang telah ditentukan. Membiasakan yang benar di sekolah adalah bentuk implementasi peserta didik dirumah. Di samping itu juga bahwa guru di sekolah juga sudah terbiasa dengan hal yang benar, mulai dari parkir kendraan di sekolah maupun ketika membimbing maupun melatih peserta didiknya.
            Namun sangat disayangkan apabila kita melihat di jalan raya, masih banyak hal yang tidak benar menjadi sebuah kebiasaan yang selalu diulang-ulang, yakni ketika berada di lampu pengatur lalu lintas. Kita saksikan bahwa banyak sekali orang melintasi garis pembatas yang sudah ditentukan, untuk berada pada posisi paling depan. Bahkan tidak heran masih ada yang menerobos lampu merah, sebelum lampu hijau menyala.
            Bahkan biasanya juga kita biasa mendengar pada tempat-tempat umum misal di Bandara Udara yang selalu salah dalam menyebut letak wilayah kota keberadaan bandara tersebut. Penulis sering menyaksikan tulisan salah yang dianggap benar oleh mereka yang tidak mengerti dan tidak tahu tentang “ Langsat Punggur Pontianak”. Hal tersebut seolah olah mereka paling benar dan sudah biasa menyebut ketika berjualan dengan tulisan tersebut. Padahal itu salah, harusnya kita membiasakan mereka menulis tentang asal Langsat Punggur yang benar.
            Membiasakan yang benar membutuhkan keteladanan, keberanian dan konsistensi tingkat tinggi, sementara membenarkan yang biasa lebih mudah dilakukan karena tidak memerlukan proses pikir panjang. Oleh karena itu bahwa nilai-nilai budaya luhur memang tampak mulai menurun, hal ini dapat dilihat dari sikap dan perilaku sebagian masyarakat yang tampak semakin malas melakukan pembaharuan dan koreksi, serta perbaikan terhadap prilaku yang seolah telah mentradisi di tengah masyarakat.
            Dengan demikian maka saat ini kita harus dapat mengedepankan prinsip-prinsip kebenaran yang tertuang dalam ajaran agama maupun nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat. Kita harus terbiasa pada kebenaran, bukan membenarkan yang biasa. Apalagi saat ini berita tentang kejadian atau saat kita menerima sebuah berita hoax atau tidak benar. Jika kita terus menerus disuguhi berita hoax setiap hari dan dari berbagai sumber, maka lama kelamaan berita hoax itu akan dianggap menjadi sebuah kebenaran. Inilah yang sering dilakukan oleh para penyebar berita hoax. Selalu mengupload berita hoax secara simultan dan kontinyu, dengan tujuan dapat memaksa pikiran pembacanya mempercayai berita hoax yang dibuatnya.
Manusia berbudaya adalah manusia yang memiliki perilaku dan tingkah laku yang berakal budi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Manusia diberikan kecerdasan secara alamiah yang merupakan sebuah kemampuan dan daya tangkap yang luar biasa dan lebih tinggi dalam memahami sesuatu. Cerdas adalah suatu kemampuan yang luar biasa yang dinilai dari segi pikiran atau kelakuan yang dimiliki oleh individu tersebut. Biasanya kelebihan ini bisa membantu mereka agar menjadi beradaptasi dengan lebih dekat pada kehidupan sekitarnya. Orang yang mendapat kesuksesan tentunya bukan hanya dikarenakan memiliki IQ yang tinggi namun juga memiliki emosi yang cerdas, memiliki banyak teman, bisa berkomunikasi dengan baik, mempunyai empati yang tinggi terhadap orang dan lingkungan sekitar dan juga tidak mudah marah atau tempramental.
Belajar berperilaku sesuai dengan ketentuan yang berlaku di masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri. Bagi peserta didik yang agresif, akan menemukan jati dirinya dan apabila diberi suatu kesempatan maka ia cukup luas untuk berkreasi. Belajar untuk hidup bersama, tidak terlepas daripada kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, dan saling  memberi. Kondisi seperti inilah yang sangat memungkinkan tumbuhnya sikap saling pengertian antar suku, agama dan ras. Kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, adanya keterbukaan, memberi dan menerima perlu dikembangkan.
Untuk semua itu kita harus banyak mendapatkan kirtik yang bijaksana dari orang-orang di sekitar kita, karena ada pendapat yang mengatakan bahwa semakin dewasa seseorang, kritik semakin menyakitkan hatinya, tetapi semakin bijaksana seseorang, kritik akan semakin indah bagi dirinya. Kritik akan dapat berpengaruh pada kedewasaan seseorang yang bijaksana, karena kritik merupakan bagian dari sebuah penilaian terhadap apa yang dilakukan sehari-hari dan kesalahan yang dilakukan pada diri kita.  Semoga !
(Uray Iskandar, S. Pd, M.Pd)
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sambas)


SEKOLAH SEBAGAI ORGANISASI PEMBELAJAR





Pendahuluan

Kebutuhan masyarakat Indonesia yang semakin tinggi terhadap pendidikan yang bermutu menunjukkan bahwa pendidikan telah menjadi salah satu pranata kehidupan sosial yang kuat dan berwibawa, serta memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan peradaban bangsa Indonesia. Pendidikan telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam membangun peradaban bangsa Indonesia dari satu masa ke masa yang lainnya, baik sebelum kemerdekaan maupun sesudah kemerdekaan.

Bangsa besar adalah bangsa yang memiliki karakter kuat berdampingan dengan kompetensi yang tinggi, yang tumbuh dan berkembang dari pendidikan yang menyenangkan dan lingkungan yang menerapkan nilai-nilai baik dalam seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Hanya dengan karakter yang kuat dan kompetensi yang tinggilah jati diri bangsa menjadi kokoh, kolaborasi dan daya saing bangsa meningkat sehingga mampu menjawab berbagai tantangan era abad 21. Untuk itu, pendidikan nasional harus berfokus pada penguatan karakter di samping pembentukan kompetensi.

Dalam pengembangan organisasi pembelajar, peran kepala sekolah bertindak sebagai koordinator terhadap tim kerja yang telah dibentuknya melalui sebuah implementasi sikap dan gaya kepemimpinan yang fleksibel, terbuka, demokratis serta mampu memberikan pengarahan, bimbingan atau sebuah panutan kepada warga sekolah, sehingga dapat memberikan keleluasaan bagi guru untuk memberikan ide dan sikap yang kreatif dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya.

Lembaga pendidikan menjadi sarana strategis bagi pembentukan karakter bangsa karena memiliki struktur, sistem dan perangkat yang tersebar di seluruh Indonesia dari daerah sampai pusat. Pembentukan karakter bangsa ini ingin dilaksanakan secara masif dan sistematis melalui program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang terintegrasi dalam keseluruhan sistem pendidikan, budaya sekolah dan dalam kerja sama dengan komunitas. Program PPK diharapkan dapat menumbuhkan semangat belajar dan membuat peserta didik senang di sekolah sebagai rumah yang ramah untuk bertumbuh dan berkembang.

Menurut Barnawi, dkk ( 2010: 69 ) pendidikan karakter dapat dilakukan melalui tiga desain, yakni :

1. Berbasis Kelas, yang berbasis pada relasi guru sebagai pendidik dan siswa sebagai pembelajar.

2. Desain berbasis kultur sekolah, yang berusaha membangun kultur sekolah yang mampu membentuk karakter anak didik dengan bantuan pranata sosial sekolah agar nilai tertentu terbentuk dan terbatinkan dalam diri siswa.

3. Desain berbasis komunitas, yakni masyarakat di luar lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab moral untuk mengintegrasikan pembentukan karakter dalam konteks kehidupan mereka.

Pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dalam mengembangkan Pendidikan Karakter Bangsa, kesadaran akan siapa dirinya dan bangsanya adalah bagian yang teramat penting. Kesadaran tersebut hanya dapat terbangun dengan baik melalui sejarah yang memberikan pencerahan dan penjelasan mengenai siapa diri bangsanya di masa lalu yang menghasilkan dirinya dan bangsanya di masa kini. Selain itu, pendidikan harus membangun pula kesadaran, pengetahuan, wawasan dan nilai berkenaan dengan lingkungan tempat diri dan bangsanya hidup.

Sekolah Sebagai Organisasi Pembelajar 

Sekolah sebagai organisasi pembelajar  harus hadir bersama-sama dalam sebuah organisasi di sekolah untuk meningkatkan kualitas pengembangan sumber daya, karena dapat mempercepat proses pembelajaran organisasi dan meningkatkan kemampuannya untuk beradaptasi pada perubahan di sekolah dan mengantisipasi perubahan pada masa depan.

            Sekolah sebagai sistem tersusun dari komponen konteks, input, proses, output dan outcome. Konteks adalah eksternalitas yang berpengaruh terhadap penyelenggaraan pendidikan dan karenanya harus di internalisasikan kedalam penyelenggaraan sekolah. Sekolah yang mampu menginternalisasikan konteks kedalam dirinya akan membuat sekolah sebagai bagian dari konteks dan bukannya terisolasi darinya.

Input sekolah adalah segala sesuatu yang diperlukan untuk berlangsungnya proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar. Proses adalah kejadian berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain dengan kata lain berubahnya siswa belum terdidik menjadi terdidik.  

Output pendidikan adalah hasil belajar yang merefleksikan seberapa efektif proses belajar mengajar diselenggarakan, maksudnya proses belajar ditentukan oleh tingkat efektivitas  dan efisiensi proses belajar mengajar.

Outcome adalah dampak jangka panjang dari hasil belajar baik dari dampak bagi individu tamatan maupun bagi masyarakat. Artinya jika hasil belajar bagus dampaknya juga akan bagus. Dalam kenyataan tidak selalu demikian karena outcome dipengaruhi oleh banyak faktor  diluar hasil belajar.

            Sekolah sebagai organisasi pembelajar berperan dalam hal peningkatan kegiatan guru-guru dalam hal meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar, menerima pelatihan lebih lanjut untuk melengkapi apa yang telah diterima dalam pelatihan, membuat dan mencobakan bahan-bahan atau alat peraga dan alat bantu pengajaran yang akan dipergunakan di kelas masing-masing serta mendiskusikan masalah-masalah yang dihadapi di kelas dan menerima saran-saran.

Organisasi pembelajar adalah organisasi yang mencari untuk menciptakan masa depannya, menjadikan pembelajaran sebagai proses kreatif yang terjadi berkesinambungan bagi seluruh anggotanya, mengembangkan, beradaptasi dan mentransformasikan dirinya dalam menjawab kebutuhan serta aspirasi orang-orang di dalam organisasi ataupun di luar organisasi dan memberi peluang pada seluruh anggota organisasi.

Sekolah bermutu secara internal sangat erat kaitannya dengan adanya keterlibatan warga sekolah secara totalitas di dalamnya. Mutu menuntut adanya komitmen pada kepuasaan pelanggan yang memungkinkan adanya perbaikan pada para karyawan, siswa dalam mengerjakan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Pembelajaran dalam organisasi akan semakin cepat kalau orang mau berbagi wawasan dan belajar bersama-sama. Oleh karena itu semangat belajar dalam tim, cerita sukses atau gagal suatu tim harus disampaikan pada tim yang lainnya. Berbagi wawasan pengetahuan dalam tim menjadi sangat penting untuk peningkatan kapasitas organisasi dalam menambah modal intelektualnya. Organisasi pembelajar memerlukan sumberdaya yang memiliki kompetensi yang tinggi agar bisa beradaptasi dengan tuntutan perubahan, khususnya perubahan teknologi.

Organisasi pembelajaran merupakan sebuah organisasi dimana setiap individu memiliki perkembangan dan pembelajaran mereka sendiri, dimana organisai mendukung dan menghargai setiap orang untuk belajar, dimana organisasi ini mengembangkan kapasitas belajar untuk menghasilkan kapabilitas yang baru. Sekolah pada masa kini  perlu belajar dari lingkungannya karena sekolah juga merupakan bagian dari lingkungan. Hal ini dapat diwujudkan dengan kolaborasi antar sekolah, kerja sama orang tua atau komite sekolah. Hal ini tentu saja memerlukan struktur, aktivitas dan pekerjaan yang baru dari setiap institusi untuk menggali informasi, bantuan dan orang-orang untuk mencapai misi mereka.

     Sekolah sebagai organisasi pembelajar dengan sistem terbuka, senantiasa mampu beradaptasi dan peka terhadap perubahan atau perkembangan yang terjadi. Setiap aktivitas yang ada di sekolah, harus mengarah pada proses pembelajaran, karena hakikatnya sekolah merupakan organisasi pembelajar. Sekolah sebagai organisasi pembelajar akan selalu bersikap terbuka untuk belajar, sehingga keterlibatn seluruh personil sekolah sangat dominan untuk menciptakan efektivitas sekolah.

Harapan sekolah sebagai organisasi pembelajar memang masih jauh dari apa yang di harapkan, namun membuka diri dengan sebuah wacana baru merupakan sesuatu yang sangat penting, agar ada perubahan paradigma dan visi yang baru yang akan menggerakkan sistem pendidikan Indonesia berubah kearah yang lebih baik dan dapat diukur.

            Warga sekolah harus belajar dan cara belajar bersama agar belajar menjadi lebih efisien dan efektif, tidak hanya bagi perseorangan namun bagi keseluruhan warga sekolah. Belajar menjadi hal yang paling utama untuk mewujudkan perubahan karena jika setiap orang, kelompok maupun  organisasi, benar-benar belajar, maka akan berubah dengan sungguh-sungguh akibat hasil belajar tersebut. Apabila kita benar-benar berubah dan menjadi pembelajar sejati, maka kita akan merefleksikan perubahan-perubahan tersebut, kemudian  akan belajar lebih banyak lagi.

Semoga pihak yang berkecimpung dengan lembaga pendidikan  beranggapan bahwa sekolah sebagai lembaga tempat terjadinya proses pembelajaran, maka mengelola organisasi sekolah memerlukan kebijakan manajemen dan kepemimpinan yang dapat memberi ruang bagi tumbuh kembangnya kreativitas dan inovasi bagi warga sekolah.

Membangun Karakter Bangsa

Upaya terobosan kurikulum berupa pengembangan nilai-nilai yang menjadi dasar bagi Pendidikan Karakter Bangsa dapat dikembangkan pada diri peserta didik akan sangat kokoh dan memiliki dampak nyata dalam kehidupan diri, masyarakat, bangsa dan bahkan umat manusia. Pengembangan budaya dan karakter bangsa hanya dapat dilakukan dalam suatu proses pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan sosial, budaya masyarakat dan budaya bangsa.

Budaya organisasi adalah suatu kebiasaan yang telah berlangsung lama dan di pakai serta di terapkan dalam kehidupan aktivitas kerja sebagai salah satu pendorong untuk meningkatkan kualitas kerja ( Irham Fahmi, 2010: 47).  Budaya organisasi dapat dipandang sebagai sebuah sistem. Menurut Mc. Namara dalam Hikmat ( 2009:211) mengemukakan bahwa dilihat dari sisi input, budaya organisasi mencakup umpan balik ( feed back) dari masyarakat, profesi, hukum, kompetisi dan sebagainya.  Adapun dilihat dari proses,  budaya organisasi mengacu pada asumsi, nilai dan norma. Sementara dilihat dari output berhubungan dengan pengaruh budaya organisasi terhadap perilaku organisasi, teknologi, strategi, image, produk dan sebagainya.

Pembelajaran adalah wahana yang dirancang oleh pendidik secara sadar untuk mencapai tujuan pendidikan. Pembelajaran terwujudkan dalam interaksi belajar-mengajar yang dinamis dan diarahkan kepada pencapaian tujuan, yaitu perubahan perilaku dan pribadi peserta didik yang optimal. Perubahan yang terjadi pada peserta didik itu ditampilkan dalam karakter, sebagai perilaku yang dilandasi nilai-nilai kehidupan yang sangat luhur.

Setiap proses pembelajaran melibatkan mata pelajaran tertentu atau tema yang sedang dilaksanakan, metode pembelajaran yang digunakan oleh guru, serta pengelolaan kelas. Dalam rangkaian penyelenggaraan proses belajar mengajar di kelas guru memiliki kesempatan leluasa untuk mengembangkan karakter siswa. Guru dapat memilih bagian dari mata pelajarannya atau tema pelajaran untuk diintegrasikan dengan pengembangan karakter siswa. Metode belajar yang dipilihpun dapat menjadi media pengembangan karakter. Ketika mengelola kelas guru berkesempatan untuk mengembangkan karakter melalui tindakan dan tutur katanya selama proses pembelajaran berlangsung.

Menurut Daryanto (2013: 57) guru semestinya memahami bahwa profesinya adalah mengajar. Oleh sebab itu setiap guru sebaiknya belajar ilmu atau metode mengajar mana yang diperlukan sebagai dasar untuk emngajar agar dapat dikategorikan sebagai suatu profesi.

Setiap proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru selalu mengembangkan kemampuan dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Sedangkan untuk pengembangan beberapa nilai peduli sosial, peduli lingkungan, rasa ingin tahu, dan kreatif memerlukan upaya pengkondisian sehingga peserta didik memiliki kesempatan untuk memunculkan perilaku yang menunjukkan nilai-nilai tersebut. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat.

Proses pembelajaran pada setiap satuan pendidikan harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) menegaskan bahwa pendidik harus memiliki kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini. Arahan normatif tersebut yang menyatakan bahwa guru sebagai agen pembelajaran menunjukkan pada harapan, bahwa guru merupakan pihak pertama yang paling bertanggung jawab dalam pentransferan ilmu pengetahuan kepada peserta didik dan juga harus menguasai kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial.

Guru mendidik tidak hanya sebatas mentransfer ilmu saja, namun lebih jauh dan pengertian itu yang lebih utama adalah dapat mengubah atau membentuk karakter dan watak  peserta didik agar menjadi lebih baik, lebih sopan dalam tataran etika maupun estetika bahkan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

            Memahami karakter seseorang peserta didik memang sangat sulit, namun sangat penting. Apalagi sebagai guru selalu bersama dengan peserta didik yang sangat banyak dan masing-masing mempunyai karakter-karakter tersendiri. Keadaan atau proses beajar dan mengajar tidak dapat berjalan dengan baik, apabila kita tidak saling mengenal dengan peserta didik. Saling mengenal tidak harus dengan menghafal nama-nama dari peserta didik, tetapi pendidik harus mengenal kepribadian dari setiap peserta didik.

Menurut Aunurahman (2013:81) proses pembelajaran yang berdaya dan berhasil guna bukan merupakan kegiatan yang berdiri sendiri, akan tetapi terkait dengan berbagai faktor yang saling terkait. Salah satu faktor tersebut bersumber dari kemampuan guru memahami peserta didik dalam berbagai dimensinya. Dimensi yang paling utama adalah berkaitan dengan peserta didik tahap-ahap perekembangan moral anak. Karena setiap anak pada usia yang berbeda akan menempatkan cara-cara berbeda secara kualitatif,  terutama dalam cara berpikir atau memecahkan permasalahan.

Sebagai guru harus dapat mengendalikan ego dan menambah kesabaran saat berinteraksi dengan peserta didik untuk mengingatkan bahwa hal tersebut salah, benar, sopan dan lain-lain.  Misalnya, seorang peserta didik yang suka bergurau dan menganggap guru adalah teman, saat pendidik melakukan kesalahan dan peserta didik mengejek dengan kata kurang sopan. Apabila kita langsung memarahi dan tidak bisa menahan emosi kita, maka kita akan ditakuti oleh peserta didik dan bisa saja peserta didik tersebut dan yang lain langsung merasa tegang dan akhirnya pada saat peajaran, bukan suasana yang menyenangkan  yang didapat melainkan suasana tegang dan menakutkan.

Mengajar dan mendidik adalah merupakan  tugas seorang guru didalam kegiatan proses belajar mengajar. Mengajar  sudah menyangkut kegiatan mendidik, dalam arti kata mengantarkan anak pada tingkat kedewasaannya, baik secara fisik maupun mental. Guru sebagai pekerjaan profesi secara holistik berada pada tingkatan tertinggi dalam sistem pendidikan nasional. Oleh karena itu guru dalam melaksanakan tugas ke profesionalannya memiliki otonomi yang kuat

Strategi pembelajaran sangat diperlukan dalam menunjang terwujudnya seluruh kompetensi yang dimuat dalam Kurikulum 2013. Dalam arti bahwa kurikulum memuat apa yang seharusnya diajarkan kepada peserta didik, sedangkan pembelajaran merupakan cara bagaimana apa yang diajarkan bisa dikuasai oleh peserta didik. Pelaksanaan pembelajaran didahului dengan penyiapan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang dikembangkan oleh guru baik secara individual maupun kelompok yang mengacu pada Silabus.

Menurut Sunyoto, dkk (2011: 13) mengatakan bahwa pembelajaran adalah setiap perubahan perilaku yang relatif permanen sebagai hasil dari pengalaman. Pembelajaran melibatkan perubahan yang relatif permanen,  sehingga perubahan yang bersifat sementara tidak dapat dikategorikan sebagai hasil pembelajaran. Pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan sebagai upaya untuk membelajarkan peserta didik. Oleh karena itu pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana membelajarkan peserta didik, dan bukan pada äpa yang dipelajari oleh peserta didik

Kegiatan pembelajaran di kelas merupakan proses pendidikan yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan seluruh potensi mereka menjadi kemampuan yang semakin lama semakin meningkat dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran tersebut diarahkan untuk memberdayakan semua potensi yang dimiliki oleh peserta didik menjadi kompetensi yang diharapkan.

Membangun karakter dari pintu pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu, namun tidak hanya melalui lingkungan pendidikan formal. Dewasa ini sekolah banyak menerapkan penanaman nilai-nilai karakter dengan menyediakan kantin kejujuran. Peserta didik belajar jujur dengan membeli dan mengembalikan uang tanpa dilayani oleh petugas kantin. Lain halnya lagi jikalau peserta didik berada pada lingkungan rumah yakni ketika seorang anak minta ajarkan pekerjaan rumah, bukan mendampingi anak mengerjakan pekerjaan rumah malahan orang tua peserta didik langsung membantu mengerjakan pekerjaan rumah anaknya tersebut.

Pelaksanaan Pendidikan Karakter Bangsa di sekolah memerlukan berbagai perubahan dalam pelaksanaan proses pendidikan yang terjadi di sekolah pada saat sekarang. Perubahan yang diperlukan tidak perlu untuk mengubah sebauh kurikulum yang berlaku tetapi menghendaki sikap baru dan keterampilan baru dari para guru, kepala sekolah, konselor sekolah, maupun pengawas sekolah. Sikap dan keterampilan baru tersebut merupakan persyaratan yang harus dipenuhi untuk keberhasilan perwujudan Pendidikan Karakter Bangsa di sekolah.

Pada dasarnya pengembangan budaya dan karakter bangsa di sekolah tidak dimasukkan sebagai materi pembelajaran tetapi terintegrasi ke dalam mata pelajaran, pengembangan diri, dan budaya sekolah. Peran guru disekolah dalam membangun karakter bangsa ditentukan oleh  kedudukannya sebagai pengajar dan pendidik. Berdasarkan kedudukannya sebagai guru maka seorang guru harus menunjukkan kelakuan yang layak bagi guru menurut harapan masyarakat. Guru-guru memperhatikan tuntutan masyarakat tentang kelakuan yang layak bagi guru dan menjadikannya sebagai norma dan kelakuan dalam segala situasi sosial di dalam dan di luar sekolah.

Dengan demikian bahwa pendidikan karakter sangat perlu ditanamkan sedini mungkin untuk mengantisipasi persoalan di masa depan yang semakin komplek seperti semakin rendahnya perhatian dan kepedulian anak terhadap lingkungan sekitar. Pendidikan karakter di sekolah diperlukan untuk mencapai manusia yang memiliki integritas nilai-nilai moral sehingga peserta didik menjadi hormat sesama, jujur dan  peduli dengan lingkungannya. Seorang guru profesional melalui pendalaman pemahamannya tentang budaya organisasi di sekolah, maka ia akan lebih baik lagi dalam memberikan penajaman tentang nilai, keyakinan dan sikap yang penting guna meningkatkan stabilitas dan pemeliharaan lingkungan belajarnya.

Melalui dunia pendidikan di sekolah, bahwa pendidikan karakter mutlak diperlukan bahkan tidak bisa ditunda dengan meneladani para tokoh yang memang patut untuk di contoh. Semoga ke depan bangsa kita lebih beradab, maju dan sejahtera.

Penutup

Belajar dan saling membelajarkan menjadi kebutuhan individu dan kelompok serta bukan menjadi beban karena mereka merasakan kepuasan sendiri dalam menikmati hasil belajar berupa pengetahuan  atau keterampilan baru  dan keberhasilan kerja mereka. Masing-masing orang menemukan kegembiraan, kebanggaan, dan tantangan dalam bekerja. Perubahan yang terjadi secara terus menerus sebagai hasil belajar membuat iklim organisasi semakin bergairah.

Sekolah sebagai komunitas pembelajar perlu memiliki kemampuan untuk membuat perubahan-perubahan dan melakukan pergeseran kinerja dari format lama ke format baru. Proses pembudayaan menjadi sangat penting dalam penguatan pendidikan karakter karena dapat memberikan atau membangun nilai-nilai luhur kepada generasi muda. Budaya sekolah yang baik diharapkan dapat mengubah perilaku peserta didik menjadi lebih baik.

Dalam pengembangan organisasi pembelajar, peran kepala sekolah bertindak sebagai koordinator terhadap tim kerja yang telah dibentuknya melalui sebuah implementasi sikap dan gaya kepemimpinan yang fleksibel, terbuka, demokratis serta mampu memberikan pengarahan, bimbingan atau sebuah panutan kepada warga sekolah, sehingga dapat memberikan keleluasaan bagi guru untuk memberikan ide dan sikap yang kreatif dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya

Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar siswa dengan siswa, siswa dengan sumber belajar dan siswa dengan guru. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Strategi Pembelajaran, terbentuk dalam sistem saling mendukung satu dengan yang lainnya, sehingga sumber daya manusia yang ada di dalam organisasi aka mampu untuk terus belajar.

Satuan pendidikan menjadi sarana strategis bagi pembentukan karakter bangsa karena memiliki sistem, infrastruktur, dan dukungan ekosistem pendidikan yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari perkotaan sampai pedesaan.