Selasa, 02 November 2010

KEPALA SEKOLAH SEBAGAI SUPERVISI KLINIS

KEPALA SEKOLAH SEBAGAI SUPERVISI KLINIS
A. Pengertian Supervisi Klinis
Supervisi kilinis dikembangkan oleh Robert Hammer dan Moris Kogan tahun 1973 serta rekan-rakanya di Universitas Harvard. Tujuannya adalah mencari pendekatan yang lebih efektif dalam supervise pengajaran. Istilah klinis (clinical) mengandung maksud bahwa dalam pelaksanaan supervisi hubungan berlangsung secara tatap muka (face to face) antara guru dengan supervisor dan difokuskan pada perilaku actual guru di depan kelas. Kata klinis juga mengandung arti berkenaan dengan penyakit . Memang konotasi tersebut tidak sepenuhnya tepat. Seorang supervisor dalam melaksanakan layanan supervisi klinis, ibarat seorang dokter yang sedang mengobati pasiennya. Didahului dengan datangnya pasien, kemudian dokter menanyakan keluhan apa saja yang dirasakan untuk mengetahui sebab-sebab dan jenis penyakit yang diderita, kemudian setelah mendapatkan kepastian dari proses diagnosis baru dokter memberikan obatnya. Hal yang terpenting dari analogi dengan pengobatan penyakit adalah bahwa supervisi klinis menghendaki inisiatif datang dari guru, untuk penyembuhan suatu aspek tertentu yang jelas, dan memang sangat dibutuhkan oleh guru itu sendiri. Tekanan pokok supervisi klinis adalah pengembangan profesionalisme guru, ia merupakan supervisi untuk membantu guru meningkatkan performa pengajarannya. Pernyataan ini sebagaimana dikemukakan oleh Cogan (dalam Wayudi 2009:107) sebagai berikut.
“Clinical” supervision may therefore be define as the rationale and practice designed ti improve the the teacher’s classroom performance. It takes its principal data from the evensts of the classroom. The analysis of these data and the relationship beween teacher and supervisor form the basis of the program, procedures and strategies designed to improve the student’s learning by improving the theacher’s classroom behaviour”
Berdasarkan defines diatas supervise klinis dirancang untuk meningkatkan performansi guru di kelas. Untuk kepentingan dimaksud diperlukan data dari Kepala Sekolah mengenai kejadian dikelas. Analisis dari peristiwa di kelas dan hubungan antara guru dann supervisor merupakandasar bagi program, prosedur, dan strategi yang dirancang untuk meningkatkan pembelajaran siswa dengan cara meningkatkan perilaku guru di kelas.
Acheson dan Gall (1987 dalam Wahyudi 2009:108) mendefinisikan supervisi klinis sebagai berikut: betuk supervise yang difokuskan pada peningkatan pembelajaran dengan tahapan atau melalui siklus yang sistematis dalam perencanaan, pengamatan serta analsis yang logis dan intensif mengenai penampilan mengajar yang nyata dalam mengadakan perubahan dengan cara yang tradisional.
Supervisi klinis adalah pembinaan kinerja guru dalam mengelola proses pembelajaran (Sullivan & Glanz, 2005). Menurut Sergiovanni (1987) ada dua tujuan supervisi klinis: pengembangan profesional dan motivasi kerja guru ( dalam Dirjen PMPTK Kemendiknas 2010 ) Sedangkan John J. Bolla dalam Ngalim Purwanto (2005:91) mendefinisikan supervisi klinis sebagai: “suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru, khususnya dalam penampilan mengajar, berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar tersebut”.
Supervisor dalam melakukan proses supervisi klinisnya memulai dengan menyelenggarakan pertemuan bersama guru. Dalam pertemuan itu guru mempunyai keesempatan untuk menentukan perhatian, kebutuhan dan aspirasi pribadinya. Peranan supervisor di sini adalah membantu guru menjernihkan persepsi-persepsi ini sehingga mereka mempunyai gambaran yang jelas tentang pembelajaran mutakhir, pandangan tentang pembelajaran yang ideal. Lalu supervisor dan guru mencari teknik-teknik baru yang mungkin dapat dicobakan agar pembelajaran ke depan lebih ideal. (Acheson dan Gall 1987:11)
Keith A. Acheson sendiri cenderung mengistilahkan supervisi klinis dengan sebutan Teacher Centered Supervision (supervisi yang terpusat pada guru) untuk maksud bahwa dalam supervisi klinis guru adalah orang yang secara proaktif menyampaikan inisiatifnya tentang problem-problem pembelajaran yang dialami kepada supervisor, selanjutnya dicarikan solusi yang terbaik atas masalah-masalah tersebut. (Acheson dan Gall 1987:10-11)
Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa inti supervisi klinis ialah proses pembimbingan yang bertujuan untuk meningkatkan profesionaisme guru dengan menekankan pada penampilan mengajar, melalui prosedur yang sistematis dimulai dari pertemuan pendahuluan, observasi kelas, dan peretemuan balikan, data dianalisis secara cermat, teliti dan objektif guna mendapatkan perubahan tingkah laku mengajar yang diharapkan.
B. Tujuan supervisi klinis
Pertemuan pendahuluan, observasi ruang kelas, dan pertemuan umpan balik (feedback) merupakan kegiatan-kegiatan utama supervisi klinis. Tujuan pokok dari kegiatan-kegiatan ini adalah perbaikan pengajaran guru di kelas. Dalam hal ini supervisi klinis merupakan sebuah teknik kunci untuk menaikkan atau meningkatkan pertumbuhan professional guru.
Menurut Keith A. Acheson dan Gall (1987:15-16), tujuan supervisi klinis dapat diuraikan ke dalam tujuan-tujuan khusus sebagai berikut:
1. Memberikan gambaran secara objektif kepada guru mengenai penampilan mengajar yang senyatanya. Supervisi klinis dapat diibaratkan sebuah cermin bagi para guru sehingga mereka dapat melihat kondisi yang senyatanya mengenai penampilan mengajarnya di kelas.
2. Mendiagnosis dan memecahkan permasalahan pengajaran. Supervisi klinis menggunakan teknik pertemuan dan catatan observasi dalam membantu guru melihat ketidaksesuaian/penyimpangan dari yang seharusnya (penampilan mengajar ideal). Pada akhirnya guru diharapkan dapat melakukan diagnosis sendiri tentang ketidaksesuaian perilaku mengajarnya tanpa harus dibantu supervisor. Namun hal ini bukan berarti sudah tidak membutuhkan lagi bantuan supervisor, pada saat dan aspek tertentu tetap memerlukan campur tangan supervisor.
3. Membantu guru mengembangkan keterampilan dalam hal strategi mengajar yang dipakainya. Supervisi klinis bukan sekedar membantu guru memecahkan dengan segera permasalahan dan ketimpangan yang dialami dalam mengajar, akan tetapi lebih dari itu, yakni dengan pendekatan supervisi klinis diharapkan guru dapat mengembangkan secara terus menerus pola-pola perilaku mengajar, atau yang disebut strategi pengajaran. Untuk mencapai tujuan ini tentu sangat memerlukan kemahiran dan kecakapan supervisor serta kiat-kiat khusus dalam menyelenggarakan layanan supervisi klinis.
4. Mengevaluasi guru untuk promosi, kenaikan jabatan, atau untuk keputusan lain. Tujuan ini terkesan sangat controversial dengan fungsi supervisi klinis. Dan mungkin ada sebagaian supervisor yang menolaknya sebagai tujuan supervisi klinis. Dalam praktek di lapangan boleh saja terjadi, supervisor mengevaluasi kemampuan guru. Karena memang supervisi klinis yang penekanannya pada pengembangan profesiuonalisme guru atas dasar data objektif yang dikumpulkan melalui observasi kelas secara sistematis pada hakikatnya adalah kegiatan mengevaluasi kemampuan guru.
5. Membantu guru mengembangkan sikap positif dalam pengembangan profesionalisme secara berkesinambungan. Melalui supervisi klinis diharapkan dapat membantu guru untuk menyadari dan tumbuh kemauan untuk melatih diri secara terus menerus tanpa akhir .
Dengan demikian jelas bahwa pada prinsipnya, tujuan pokok supervisi klinis adalah meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dengan memfokuskan pada perbaikan penampilan guru mengajar di kelas.
C. Ciri-ciri supervisi klinis
Menurut La Sulo sebagai dikutip Ngalim Purwanto (2005:91) mengemukakan ciri-ciri supervisi klinis ditinjau dari segi pelaksanaannya sebagai berikut:
1. Bimbingan supervisor kepada guru bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi.
2. Jenis keterampilan yang akan disupervisi diusulkan oleh guru yang akan disupervisi, dan disepakati melalui pengkajian bersama antara guru dan supervisor.
3. Meskipun guru mempergunakan berbagai keterampilan mengajar secara terintegrasi, sasaran supervisi hanya pada beberapa keterampilan saja;
4. Instrumen supervisi dikembangkan dan disepakati bersama antara supervisor dan guru berdasarkan kontrak.
5. Balikan diberikan dengan segera dan secara objektif (sesuai dengan data yang direkam oleh instrument observasi)
6. Meskipun supervisor telah menganalisis dan menginterpretasi data yang direkam oleh instrument observasi, di dalam diskusi atau pertemuan balikan guru terlebih dahulu diminta menganalisis penampilannya
7. Supervisor lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada memerintah atau mengarahkan
8. Supervisi berlangsung dalam suasana intim dan terbuka
9. Supervisi berlangsung dalam siklus yang meliputi perencanaan, observasi dan diskusi/pertemuan balikan
10. Supervisi klinis dapat dipergunakan untuk pembentukan atau peningkatan dan pervaikan keterampilan mengajar; di pihak lain dipakai dalam konteks pendidikan prajabatan maupun dalam jabatan.
Dari ciri-ciri tersebut, dapat diketahui dan dibedakan antara supervisi pengajaran dan supervisi klinis. Supervisi pengajaran lebih menekankan pada pengawasan dari supervisor terhadap guru-guru tentang pengelolaan pembelajaran yang dikelolanya. Sedangkan supervisi klinis lebih menekankan pada inisiatif guru untuk menyampaikan problem-problem pengajaran yang dihadapinya untuk disampaikan kepada supervisor, dan selanjutnya dicarikan solusi terbaiknya. Persamaannya adalah bahwa baik dalam supervisi pengajaran maupun dalam supervisi klinis dituntut adanya kooperasi atau kerja sama yang harmonis antara supervisor dengan guru itu sendiri, guru tidak boleh masa bodoh.
D. Prinsip dan prosedur supervisi klinis
Dalam melaksanakan supervisi klinis terdapat beberapa prinsip umum yang harus dijadikan patokan oleh supervisor dalam melaksanakan kegiatannya. Menurut Acheson (1987:10) ada tiga prinsip umum yang harus menjiwai tindakan atau keputusan supervisor, yaitu interaktif bukan directif, demokratis bukan otoritatif, dan berpusat pada guru bukan pada supervisor. Sedangkan menurut Nurtain dalam Jayadi (2002:74-75), prinsip-prinsip supervisi klinis itu adalah sebagai berikut:
1. Terpusat pada guru ketimbang supervisor. Prinsip ini menekankan prakarsa dan tanggung jawab meningkatkan keterampilan mengajar dan menganalisis serta mencari cara meningkatkan keterampilan mengajar tersebut sangat berkaitan/disesuaikan dengan kebutuhan guru yang bersangkutan;
2. Hubungan guru dengan supervisor lebih interaktif ketimbang direktif. Prinsip ini menekankan bahwa antara supervisor dan guru pada hakikatnya sederajat dan saling membantu dalam meningkatkan kemampuan dan sikap profesionalnya;
3. Demokratif ketimbang otoritatif. Prinsip ini menekankan kedua belah pihak harus bersifat terbuka, dalam arti masing-masing pihak mempunyai hak mengemukakan pendapat secara bebas, namun masing-masing juga berkewajiban mempertimbangkan pendapat pihak lain dalam rangka mencapai kesepakatan;
4. Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru. Prinsip ini mengandung arti bahwa kebutuhan mendapatkan layanan supervisi itu bersumber dan dirasakan manfaatnya oleh guru. Kebutuhan dan aspirasi guru tidak terlepas dari kawasan penampilan guru di depan kelas;
5. Umpan balik dari proses belajar mengajar guru diberikan dengan segera dan hasil atau kesimpulannya harus sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama;
6. Layananan supervisi yang diberikan bersifat bantuan dengan tujuan meningkatkan kemampuan mengajar dan sikap professional guru; dan
7. Pusat perhatian pada waktu berlangsungnya supervisi dalam kegiatan pengajaran hanya memfokuskan pada beberapa keterampilan saja. Meskipun keterampilan mengajar dapat digunakan secara integrative, tetapi untuk peningkatan keterampilan tertentu dapat dilakukan secara terisolasi agar mudah dikontrol dan diamati.
Supervisor (termasuk kepala sekolah) dalam melaksanakan kegiatan supervisi klinisnya harus mengacu kepada prinsip-prinsip tersebut di atas agar hasil yang dicapainya itu optimal. Bila prinsip-prinsip itu tidak dihiraukan oleh supervisor, maka bisa jadi penyelesaian masalah yang dihadapi guru yang berhubungan dengan pengelolaan pembelajaran atau pengajaran tidak mencapai titik temu. Dengan kata lain, masalah tinggallah masalah tanpa ada penyelesaian yang tuntas.
Adapun prosedur pelaksanaan supervisi klinis adalah dengan mengikuti tiga tahapan, sebagaimana dikemukakan oleh Acheson (1987:13): “In brief, clinical supervision is a model of supervision that contains three phases: planning conference, classroom observation, and feedback conference. The most distinctive features of clinical supervision are its emphases on direct teacher-supervisor interaction and the teacher’s professional development” Artinya, supervisi klinis dilakukan melalui tiga tahapan yaitu tahap pertemuan pendahuluan, tahap observasi kelas, dan tahap pertemuan balikan. Hal yang paling membedakan supervisi klinis adalah penekanannya pada interaksi langsung guru-supervisor dan pengembangan professional guru. Tahap pertemuan pendahuluan dimaksudkan sebagai langkah inventarisir masalah yang dihadapi guru; tahap observasi kelas dimaksudkan sebagai tahap untuk melihat secara real pembelajaran yang terjadi di dalam kelas; sedangkan tahap pertemuan balikan merupakan tindak lanjut dari kegiatan yang kedua tadi.
Tahap pertemuan pendahuluan (tahap pertama); Pada tahap ini yang terpenting untuk diperhatikan, terutama oleh supervisor, adalah harus dapat menciptakan suasana yang akrab, terbuka dan penuh persahabatan. Jadi yang terjalin adalah hubungan kolegial dalam suasana kerjasama yang harmonis. Dalam tahap ini supervisor dan guru bersama-sama membicarakan rencana keterampilan yang akan diobservasi dan dicatat.
Menurut Soetjipto dan Raflis Kosasi dalam Jayadi (2002:77), secara teknis diperlukan lima langkah dalam pelaksanaan pertemuan pendahuluan yang meliputi:
1. Menciptakan suasana yang akrab antara supervisor dengan guru;
2. Melakukan kajian ulang rencana pembelajaran (tujuan, bahan, kegiatan, dan evaluasinya) yang telah dibuat oleh guru;
3. Mengidentifikasi komponen keterampilan (beserta indikatornya) yang akan diobservasi;
4. Memilih atau mengembangkan instrument observasi yang akan digunakan;
5. Mendiskusikan bersama untuk mendapatkan kesepakatan tentang instrument observasi yang dipilih atau dikembangkan
Dengan demikian, pada tahap pertemuan pendahuluan supervisor dan guru bersama-sama membicarakan rencana keterampilan yang akan diobservasi dan dicatat. Bagi guru maupun supervisor, tahap ini merupakan kesempatan untuk mengidentifikasi kemampuan atau keterampilan mana yang memerlukan perbaikan. Keterampilan yang dipilih dan disepakati kemudian dioperasionalkan dalam bentuk rumusan tingkah laku yang dapat diamati dan dirumukan pula deskriptornya untuk kepentingan pencatatan data dan memberikan penafsiran (penilaian).
Tahap observasi kelas (tahap kedua); pada tahap ini guru mengajar atau melakukan latihan mengenai tingkah laku mengajar yang telah dipilih dan disepakati bersama pada tahap pertemuan pendahuluan. Ketika guru praktik/berlatih, supervisor mengadakan observasi dengan menggunakan alat perekam yang juga telah disepakati bersama. Aspek-aspek yang diamati adalah segala hal yang telah disepakati yang tercantum dalam instrument yang juga telah disetujui bersama dalam pertemuan pendahuluan.
Fungsi utama observasi kelas adalah untuk menangkap apa yang terjadi selama proses pengajaran berlangsung secara lengkap agar supervisor dan guru dapat dengan tepat mengingat kembali proses pengajaran dengan tujuan agar analisis dapat dibuat secara objektif. Ide pokok dalam observasi ini adalah mencakup apa yang terjadi sehingga dengan catatan yang dibuat dengan cermat dan lengkap serta kemudian tersimpan dengan baik, dapat bermanfaat untuk kepentingan analisis dan komentar (Jayadi, 2002:77).
Menurut Nurtain dalam Jayadi (2002:77-78), ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh supervisor dalam melaksanakan observasi ini, yaitu “kelengkapan catatan, focus, mencatat komentar, pola, dan membuat guru tidak merasa gelisah.” Hasil catatan observasi akan merupakan bukti-bukti atau data bagi supervisor atau guru untuk dikaji bersama dalam menganalisis apa yang terjadi selama proses pengajaran. “Catatan yang lengkap” akan sangat membantu dalam proses kajian dan analisis tersebut. Namun mencatat segala ssuatu yang terjadi di dalam kelas merupakan sesuatu yang sulit dan hampir tidak mungkin. Oleh karena itu, maka supervisor harus memilih aspek-aspek keterampilan yang perlu dicatat. Disinilah pentingnya “fokus”. “Mencatat komentar” juga merupakan hal penting dalam pelaksanaan observasi, hal ini dilakukan agar supervisor tidak lupa terhadap komentar-komentar. Tetapi antara catatan dan komentar harus dipisahkan peletakannya, misalnya komentar dicatat pada tepi format observasi. “Pola” perilaku mengajar tertentu yang dilakukan guru sangat bermanfaat untuk dicatat dan nantinya untuk dibicarakan dalam pertemuan balikan. Kemudian, untuk “menghilangkan kegelisahan guru”, supervisor perlu menjelaskan kepada guru tentang apa yang akan dicatatnya. Penjelasan ini dapat disampaikan kepada guru ketika pada pertemuan pendahuluan sehingga guru mengetahuinya dan tidak perlu lagi merasa gelisah karena akan dilakukan pencatatan peristiwa.
Tahap pertemuan balikan (tahap ketiga); Tahap ini merupakan diskusi umpan balik antara supervisor dan guru berkaitan dengan kegaiatan yang baru saja diselesaikan yaitu, guru baru saja selesai melakukan latihan suatu keterampilan, dan supervisor baru saja selesai mengamati guru melakukan latihan. Yang menjadi acuan dalam pertemuan balikan ini adalah kesepakatan yang dibuat dalam pertemuan pendahuluan, dan pada akhir diskusi balikan ini guru diharapkan dapat mengetahui dan menyadari seberapa jauh tujuan yang telah disetujui bersama dapat tercapai (Jayadi, 2002:78-79).
Soetjipto dan Raflis Kosasi dalam Jayadi (2002:79-80) mengemukakan langkah-langkah pembicaraan hasil supervisi klinis sebagai berikut.
1. Memberi penguatan dan menanyakan perasaan guru mengenai apa yang dialaminya dalam kegiatan mengajar secara umum. Hal ini untuk menciptakan suasana santai agar guru tidak merasa diadili;
2. Mereviu tujuan pelajaran;
3. Mereviu target keterampilan serta perhatian utama guru dalam mengajar/latihan mengajar
4. Menanyakan perasaan guru tentang jalannya pengajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya;
5. Menunjukkan data hasil rekaman dan memberi kesempatan kepada guru menafsirkan data tersebut.
6. Menganalisis dan menginterpretasikan data hasil rekaman secara bersama-sama;
7. Menanyakan kembali perasaan guru setelah mendiskusikan hasil analisis dan interpretasi rekaman data tersebut;
8. Menyimpulkan hasil dengan melihat atau membandingkan antara apa yang sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dengan apa yang sebenarnya telah terjadi atau tercapai;
9. Menentukan bersama-sama dan mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau diperhatikan pada kesempatan berikutnya.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip umum supervisi klinis harus menjiwai seluruh tahap dalam siklus supervisi klinis, yakni tahap pertemuan pendahuluan, tahap observasi kelas, dan tahap pertemuan umpan balik. Prinsip-prinsip tersebut harus tercermin dalam wawasan supervisor dan harus menjadi landasan dari setiap keputusan dan perbuatannya dalam membantu guru meningkatkan profesionalismenya.






BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tentang supervisi klinis tersebut, dapat diambil beberapa simpulan yaitu:
1. Secara garis besar teknik supervisi ini dapat dilakukan dengan dua macam, yakni teknik perseorangan dan teknik kelompok. Teknik perseorangan adalah supervisi yang dilakukan secara perseorangan, sedangkan supervisi dengan teknik kelompok dapat mengambil bentuk supervisi kolegial.
2. Secara bahasa, istilah supervisi berasal dari dua kata, yaitu “super” dan “vision”. Super berarti “higher in rank or position than, superior to (superintendent), a greater or better than others” sedangkan kata vision berarti “the ability to perceive something not actually visible, as through mental acuteness or keen foresight.
3. Secara istilah supervisi dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang digunakan oleh personalia sekolah yang bertanggungjawab terhadap aspek-aspek tujuan sekolah dan yang bergantung secara langsung kepada para personalia yang lain, untuk menolong mereka menyelesaikan tujuan sekolah itu.
4. Supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pengajaran dengan melalui siklus yang sistematis dari tahap perencanaan, pengamatan, dan analisis intelektual yang intensif terhadap penampilan mengajar sebenarnya dengan tujuan untuk mengadakan modifikasi yang rasional. Supervisi klinis adalah suatu proses bimbingan yang bertujuan untuk membantu pengembangan professional guru, khususnya dalam penampilan mengajar, berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan obyektif sebagai pegangan untuk perubahan tingkah laku mengajar tersebut.
5. Tujuan supervisi klinis dapat diuraikan ke dalam tujuan-tujuan khusus sebagai berikut: a) Memberikan gambaran secara objektif kepada guru mengenai penampilan mengajar yang senyatanya. b) Mendiagnosis dan memecahkan permasalahan pengajaran. c) Membantu guru mengembangkan keterampilan dalam hal strategi mengajar yang dipakainya. d) Mengevaluasi guru untuk promosi, kenaikan jabatan, atau untuk keputusan lain. e) Membantu guru mengembangkan sikap positif dalam pengembangan profesionalisme secara berkesinambungan.
6. Ciri-ciri supervisi klinis: a) Bimbingan supervisor kepada guru bersifat bantuan, bukan perintah atau instruksi; b) Jenis keterampilan yang akan disupervisi diusulkan oleh guru yang akan disupervisi, dan disepakati melalui pengkajian bersama antara guru dan supervisor; c) Meskipun guru mempergunakan berbagai keterampilan mengajar secara terintegrasi, sasaran supervisi hanya pada beberapa keterampilan saja; d) Instrumen supervisi dikembangkan dan disepakati bersama antara supervisor dan guru berdasarkan kontrak; e) Balikan diberikan dengan segera dan secara objektif (sesuai dengan data yang direkam oleh instrument observasi); f) Meskipun supervisor telah menganalisis dan menginterpretasi data yang direkam oleh instrument observasi, di dalam diskusi atau pertemuan balikan guru terlebih dahulu diminta menganalisis penampilannya; g) Supervisor lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada memerintah atau mengarahkan; h) Supervisi berlangsung dalam suasana intim dan terbuka; i) Supervisi berlangsung dalam siklus yang meliputi perencanaan, observasi dan diskusi/pertemuan balikan; j) Supervisi klinis dapat dipergunakan untuk pembentukan atau peningkatan dan pervaikan keterampilan mengajar; di pihak lain dipakai dalam konteks pendidikan prajabatan maupun dalam jabatan.
7. Tiga prinsip umum yang harus menjiwai tindakan atau keputusan supervisor, yaitu interaktif bukan directif, demokratis bukan otoritatif, dan berpusat pada guru bukan pada supervisor
8. Prinsip lainnya: a) Terpusat pada guru ketimbang supervisor; b) Hubungan guru dengan supervisor lebih interaktif ketimbang direktif; c) Demokratif ketimbang otoritatif; d) Sasaran supervisi terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru; e) Umpan balik dari proses belajar mengajar guru diberikan dengan segera dan hasil atau kesimpulannya harus sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama; f) Layananan supervisi yang diberikan bersifat bantuan dengan tujuan meningkatkan kemampuan mengajar dan sikap professional guru; dan g) Pusat perhatian pada waktu berlangsungnya supervisi dalam kegiatan pengajaran hanya memfokuskan pada beberapa keterampilan saja.
9. Supervisi klinis dilakukan melalui tiga tahapan yaitu tahap pertemuan pendahuluan, tahap observasi kelas, dan tahap pertemuan balikan.



















DAFTAR RUJUKAN
Purwanto, Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. PT. Remaja Rosdakarya. Bandung, 2009.
Tim Dosen AP UPI. Manajemen Pendidikan.Alfabeta. Bandung, 2009
http://iimrsch.wordpress.com. Supervisi Pendidikan, akses tanggal 26 Oktober 2010
Sagala, Syaiful. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Alfabeta.Bandung, 2008.
Dirjen PMPTK. Supervisi Pendidikan. Bandung, 2010
Suparlan, Supervisi kolegial dalam penyusunan rencana pembelajaran sekolah, http://www.p4tkpknips.org, akses tanggal 26 Oktober 2010
Wahyudi. Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Organisasi Pembelajar. Alfabeta. Bandung, 2009.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar