Selasa, 30 Juli 2013

KETERAMPILAN MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH ,BUDAYA ORGANISASI SEKOLAH dan KINERJA GURU


HUBUNGAN KETERAMPILAN MANAJERIAL KEPALA SEKOLAH
DAN BUDAYA ORGANISASI SEKOLAH DENGAN
KINERJA GURU

Oleh : Uray Iskandar



Pendahuluan

Seorang Kepala Sekolah dapat menanggulangi permasalahan dan mengendalikan perilaku guru-guru serta mengikat perhatian mereka secara efektif dalam melaksanakan tugas-tugas di sekolah adalah hal yang perlu dilaksanakan. Salah satu fungsi manajerial yang dilakukan oleh Kepala Sekolah adalah fungsi pengawasan atau disebut juga fungsi pengendalian. Dan kegiatan pengawasan patut dilaksanakan oleh Kepala Sekolah karena hal itu merupakan salah satu fungsi atau proses manajemen yang wajib diimplentasikan secara nyata di sekolah. Sesuai dengan hakekatnya, kegiatan pengawasan yang dilaksanakan oleh Kepala Sekolah merupakan kegiatan balikan untuk mengidentifikasi secara jelas apakah hasil yang dicapai konsisten atau tidak konsisten dengan hasil yang diharapkan dalam rencana serta penyimpangan yang terjadi di dalam pelaksanaan suatu program sekolah. Nampak di sini bahwa ada kegiatan operasional yang terkandung dalam hakekat pengawasan tersebut yaitu terdapat upaya peningkatan dan perbaikan kinerja.
Sekolah merupakan suatu organisasi, dan budaya yang ada di tingkat sekolah merupakan budaya organisasi. Resep utama budaya organisasi adalah interpretasi kolektif yang dilakukan oleh anggota-anggota organisasi berikut hasil aktivitasnya.
Budaya organisasi yang dimaksudkan disini ini adalah aspek-aspek non fisik, misalnya komitmen kerja, pola komunikasi, sikap terhadap pekerjaan, semangat kerja, sikap terhadap sesama, harapan, kepercayaan dan norma-norma serta nilainilai kejujuran, keadilan dan kebenaran yang dirasakan oleh guru ekonomi selaku anggota organisasi sekolah. Keterampilan manajerial Kepala Sekolah adalah kemampuan yang nyata dalam hal menguasai pengetahuan dan menggunakan teknik atau strategi tertentu dalam mengaplikasikan, menjabarkan, dan menterjemahkan konsep-konsep manajemen kedalam
pekerjaan praktis di sekolah, mampu mendistribusikan pekerjaan kepada guru-guru dan pegawai dan mengarahkan serta mengendalikannya secara efektif.
Kinerja guru dapat dilihat dan diukur berdasarkan spesifikasi/kriteria kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru. Berkaitan dengan kinerja guru, wujud perilaku yang dimaksud adalah kegiatan guru dalam proses pembelajaran yaitu bagaimana seorang guru merencanakan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan menilai hasil belajar (Depdiknas Dirjen PMPTK, 2008 :21).
Hal ini sesuai dengan yang tertuang dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban (1) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis, (2) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan dan (3) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi, dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya. 
Guru sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Tugas utama itu akan efektif apabila guru memiliki  derajat profesionalitas tertentu yang tercermin dari kompetensi, kemahiran, kecakapan  atau keterampilan yang memenuhi standar mutu atau norma etik tertentu. Lebih jauh Wens Tanlain dalam Syaiful Sagala (2009:13) menyebutkan ada beberapa poin yang menjadi tanggung jawab seorang guru, antara lain: mematuhi norma dan nilai kemanusiaan, menerima tugas mendidik bukan sebagai beban, tetapi dengan gembira dan sepenuh hati, menyadari benar akan apa yang dikerjakan dan akibat dari setiap perbuatannya itu, belajar dan mengajar memberikan penghargaan kepada orang lain termasuk kepada anak didik, bersikap arif bijaksana dan cermat serta hati-hati dan sebagai orang beragama melakukan kesemua yang tersebut di atas berdasarkan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Guru sebagai tenaga pendidik merupakan pemimpin pendidikan dan sangat menentukan dalam proses pembelajaran di kelas. Peran kepemimpinan tersebut akan tercermin dari bagaimana guru melaksanakan peran dan tugasnya. Hal ini berarti bahwa kinerja guru merupakan faktor yang amat menentukan bagi mutu pembelajaran/pendidikan yang akan berimplikasi pada kualitas output pendidikan setelah menyelesaikan sekolah. Kinerja guru pada dasarnya merupakan  kinerja yang dilakukan oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Kualitas kinerja guru akan sangat menentukan kualitas hasil pendidikan, karena guru merupakan pihak yang paling banyak bersentuhan langsung dengan siswa dalam proses pendidikan di sekolah.
Ketidakdisplinan kepala sekolah yang terlihat dari kurangnya frekwensi kehadiran di sekolah, mencerminkan rendahnya komitmen kepala sekolah yang dapat mengakibatkan tidak adanya keteladanan dalam diri kepala sekolah di mata bawahannya. Padahal kita ketahui bahwa sebagai pimpinan yang bermutu faktor keteladanan menjadi amat penting karena nilai-nilai dasar yang dianut pemimpin dalam hal ini kepala sekolah tercermin dalam perilakunya. Keteladanan pemimpin juga akan dapat mempengaruhi, membimbing, membina, mengarahkan dan menyosialisasikan serta menanamkan nilai-nilai, aturan serta pola kerja dan pola pikir yang baru.
Kinerja guru saat ini ditengarai masih rendah, jika indikator yang dipakai untuk mengukurnya adalah prestasi belajar siswa dalam ranah kognitif. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil Ujian Nasional. Sebagai salah satu anggota organisasi sekolah, tenaga guru menduduki peran yang amat penting dalam proses pendidikan dan pembelajaran dalam mempersiapkan peserta didik untuk mencapai kompetensi-kompetensi yang telah ditetapkan.
Menurut Komang Ardana (2008: 169) suatu budaya organisasi yang kuat dan telah beakar akan dapat memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi anggota organisasi dalam hal pemahaman yang jelas dan lugas tentang suatu persoalan diselesaikan. Budaya memiliki pengaruh berarti pada sikap dan perilaku anggota-anggota organisasi.
Budaya adalah sumber keunggulan kompetitif utama berkelanjutan yang kemungkinan timbul sebagai pemersatu dalam organisasi sistem, struktur dan karir. Budaya sebagai semua temu hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan, kebendaan dan kebudayaan jasmaniah dalam upaya menguasai alam sekitarnya. Rasa meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai kemasyarakatan  dalam  arti  luas,  di  dalamnya  meliputi  ideologi,  kebatinan,  kesenian  serta  segala  pengetahuan  dan teknologi.
Kepala sekolah sebagai manajer juga diharapkan dapat menjadikan perubahan ke arah yang lebih baik yaitu perubahan pada budaya kerja sebuah organisasi. Perubahan budaya kerja yang rendah diharapkan dapat diubah dengan budaya yang produktif karena pengaruh kepemimpinan atasan yang lebih mengutamakan pada otonomi atau kemandirian para anggota. Apa yang dilakukan pemimpin akan mempengaruhi secara langsung budaya dalam organisasi yang dipimpinnya (Asri Laksmi Riani, 2011: 17)
Berdasarkan kenyataan tersebut diatas, bahwa keterampilam manajerial kepala sekolah sangat penting dan akan berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas yang pada gilirannya akan berpengaruh pula terhadap pencapaian tujuan pendidikan. Selain itu dengan budaya organisasi dapat mempengaruhi sikap dan perilaku anggota organisasi yang kemudian menentukan kinerja anggota dan organisasi. Rendahnya kinerja guru harus diidentifikasi penyebabnya.
Keterampilan Manajerial Kepala Sekolah dan Kinerja Guru
            Menurut Wahjosumijo (2008:81) kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang komplek dan unik, serta mampu melaksanakan peranan sebagai seseorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah.
Keberhasilan dan kegagalan bawahan adalah suatu pencerminan langsung keberhasilan atau kegagalan seorang pemimpin (Wahjosumidjo, 2008). Dengan demikian kepala sekolah bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukan oleh bawahan. Perbuatan yang dilakukan guru,  tidak dapat dilepaskan dari tanggung jawab kepala sekolah. Hal tersebut didukung oleh pendapat Hikmat (2009) kepemimpinan manajer harus memahami potensi yang dimiliki para guru sehingga komunikasi dengan para pendidik dan seluruh bawahannya akan membantu kinerjanya, terutama untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh lembaga pendidikan yang dipimpinnya.
Pendapat yang senada juga dikemukakan oleh Suryadi (2009) kepemimpinan kepala sekolah memiliki hubungan yang signifikan dengan upaya-upaya yang terbaik yang dilakukan untuk sekolah, guru dan anggota sekolah lainnya. Dengan menepatkan berbagai kepentingan dan kebutuhan yang menyangkut pengembangan dan peningkatan mutu sekolah menjadi prioritas utama dalam perilakunya.
Hal tersebut diatas juga didukung menurut pendapat Rohiat (2010) bahwa melakukan manajemen secara efektif dapat dimungkinkan jika manajer itu memiliki keterampilan manajemen dengan baik. Keterampilan dimaksudkan tersebut agar dapat mengelola sumber daya yang dimiliki oleh organisasi baik sumber daya menusia maupun sumber daya lain secara efisien dan efektif.
Temuan penelitian Suwarni (2009) di Kota Blitar menyimpulkan bahwa keterampilan manajerial kepala sekolah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pelaksanaan pengawasan maupun kinerja guru ekonomi dalam mengajar, baik langsung maupun tidak langsung. Tingkat kontribusi dimaksud diindikasikan dengan hasil sumbangan efektif keterampilan manajerial kepala sekolah.
Mulyono (2008) juga menegaskan bahwa perilaku kepala sekolah harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat dan penuh pertimbangan sebagai kelompok. Dengan demikian kesempatan untuk meningkatkan kinerja guru perlu adanya kreativitas kepemimpinan yang memadai dalam mengembangkan sebuah sekolah yang efektif. Keterampilan manajerial kepala sekolah diperlukan untuk melaksanakan tugas kepala sekolah secara efektif dan untuk mendayagunakan sumber daya sekolah.
Seorang kepala sekolah dapat menanggulangi permasalahan dan mengendalikan perilaku guru-guru serta mengikat perhatian mereka secara efektif dalam melaksanakan tugas-tugas di sekolah adalah hal yang perlu dilaksanakan. Salah satu fungsi manajerial yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah fungsi pengawasan atau disebut juga fungsi pengendalian. Dan kegiatan pengawasan patut dilaksanakan oleh kepala sekolah karena hal itu merupakan salah satu fungsi atau proses manajemen yang wajib diimplentasikan secara nyata di sekolah. Sesuai dengan hakekatnya, kegiatan pengawasan yang dilaksanakan oleh kepala sekolah merupakan kegiatan balikan untuk mengidentifikasi secara jelas apakah hasil yang dicapai konsisten atau tidak konsisten dengan hasil yang diharapkan dalam rencana serta penyimpangan yang terjadi di dalam pelaksanaan suatu program sekolah. Nampak di sini bahwa ada kegiatan operasional yang terkandung dalam hakekat pengawasan tersebut yaitu terdapat upaya peningkatan dan perbaikan kinerja
Budaya Organisasi dan Kinerja Guru
            Menurut Hikmat (2009) bahwa budaya organisasi yang strategis secara eksplisit menyatakan bahwa arah budaya harus menyelaraskan dan memotivasi anggota jika ingin meningkatkan kinerja organisasi tersebut. Budaya organisasi akan menentukan kerangka visitasi organisasi karena budaya organisasi merupakan potret perilaku anggota organisasi.
Selain itu menurut  Syafri Mangkuprawira dan Aida Vitayala, dalam Martinis Yamin (2010:129) kinerja merupakan suatu konstruksi multidimensi yang mencakup banyak faktor yang mempengaruhinya, antar lain faktor personil/individual, kepemimpinan, faktor tim dan faktor situasional.
Selanjutnya berdasarkan hasil survey yang dilakukan Leslie J. Fyans dan Martin L Maehr, dalam E. Kosasih (2010:23) bahwa para siswa lebih termotivasi dalam belajarnya dengan melalui budaya organisasi di sekolah yang kuat.
            Budaya organisasi dibentuk oleh semua orang yang terlibat dengan organisasi yang mengacu pada etika organisasi, peraturan kerja dan tipe struktur organisasi. Budaya organisasi melalui struktur organisasi membentuk dan mengendalikan perilaku organisasi dan anggota organisasi. (Hadari Nawawi, 2006). Lebih lanjut dikemukan oleh Wirawan (2007) bahwa budaya organisasi mempengaruhi sikap dan perilaku anggota organisasi yang kemudian menentukan kinerja anggota organisasi.
            Sedangkan menurut Dadang Suhardan (2010) menyatakan bahwa budaya organisasi sekolah menumbuh suburkan bagaimana mutu dan kinerja dilaksanakan oleh para anggotanya. Bagaimana kebiasaan bekerja memperbaiki diri dirasakan sebagai bagian dari kehidupannya.
            Faktor utama yang mendorong perilaku manusia serta membentuk budaya organisasi adalah umpan balik secara umum dan imbalan spesifik sebagai perwujudan apakah mereka bekerja dengan baik atau buruk (Asri Laksmi Riani, 2011). Berikutnya menurut Uhar Suharsaputra (2011) menyatakan bahwa budaya organisasi merupakan bentuk kontrol sosial yang tertanam secara mendalam yang berpengaruh pada pegawai/anggota organisasi dalam membuat keputusan dan berperilaku.Hal senada juga diperkuat oleh Komang Ardana, dkk (2008) bahwa budaya organisasi akan berdampak pada perilaku anggota organisasi, dari level yang paling tinggi sampai level terendah. Dapak tersebut terutama pada kinerja dan kepuasan kerja.
Menurut Lunenburg dan Omstein, dalam Uhar Suharsaputra (2010:100) budaya organisasi mempengaruhi kinerja pegawai, kefektifan organisasi, proses struktural organisasi serta banyak proses manajemen.
Budaya organisasi yang kondusif menciptakan, meningkatkan dan mempertahankan kinerja tinggi, kepuasan kerja, etos kerja dan motivasi kerja karyawan. Semua faktor tersebut merupakan indikator terciptanya kinerja tinggi dari karyawan yang akan menghasilkan kinerja organisasi yang tinggi pula (Wirawan, 2008:37).
Stephen Stolp, dalam E. Kosasih (2010:23) mengemukakan bahwa budaya organisasi sekolah berkorelasi dengan pengembangan motivasi dan prestasi belaajr siswa  serta kepuasan kerja dan produktivitas guru.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah harus memiliki rasa tanggung jawab yang besar dalam meningkatkan kinerja guru  melalui budaya organisasi sekolah yang merupakan nilai-nilai yang menjadi identitas untuk dipergunakan dan disepakati secara bersama oleh anggota organisasi termasuk di dalamnya adalah unsur pimpinan dalam hal ini kepala sekolah, guru dan staf  administrasi juga termasuk siswa. Mereka semua  mematuhi dan menyepakati bahwa budaya organisasi harus dijunjung tinggi untuk diterapkan sebagai budaya yang berlaku di dalam organisasi sekolah.
Dengan demikian budaya organisasi yang di dalamnya memuat norma-norma dan nilai-nilai dasar mengenai hidup manusia, diyakini dapat memberikan pengaruh yang signifikan bagi pembentukan perilaku kepala sekolah dan guru-guru dalam melakukan aktivitas sesuai fungsinya masing-masing serta membantu mereka memahami nilai dan makna dari pekerjaan yang ditangani di sekolah.
Kesimpulan
Keterampilan manajerial kepala sekolah, yang terdiri dari keterampilan konseptual yang berhubungan dengan konsep memahami dan mengelola sekolah, keterampilan hubungan manusia yang berhubungan dengan melaksanakan kerja sama, meotivasi dan membangkitkan etos kerja para guru dan karyawan TU. Sedangkan keterampilan teknik  dengan cara mengoperasionalkan alat-alat, metode dan fasilitas lainnya dengan baik. Untuk budaya organisasi sekolah dilaksanakan sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai dasar mengenai hidup manusia yang diyakini dapat memberikan hubungan yang signifikan bagi pembentukan perilaku kepala sekolah dan guru-guru dalam melakukan aktivitas sesuai fungsinya masing-masing serta membantu mereka memahami nilai dan makna dari pekerjaan yang ditangani di sekolah.
Sedangkan kinerja guru terlihat dari rasa tanggungjawabnya menjalankan tugas profesi yang diembannya, rasa tanggungjawab moral dipundaknya serta terlihat kepada kepatuhan dan loyalitasnya di dalam menjalankan tugas keguruannya di dalam kelas dan tugas kependidikannya di luar kelas. Hal tersebut dapat ditunjukkannya dari sikap dengan rasa tanggungjawabnya mempersiapkan segala perlengkapan pengajaran sebelum melaksanakan proses pembelajaran dalam menghadapi masa depan dan berbagai perubahan di lingkungan yang penuh dengan perubahan dan persaingan yang semakin tinggi, terlihat dari keterampilan manajerial dan budaya organisasi sekolah.
Uray Iskandar, M.Pd   
(Pengawas SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Sambas)




No HP : 081345242132

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar