PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

KONSEP PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

A.  Pengantar

Dalam rangka meningkatkan mutu pembelajarandi sekolah/madrasah dan pengelolaan sekolah/madrasah, kepala sekolah dapat melakukan PTS, sekaligus sebagai sarana pengembangan profesinya. PTS merupakan penelitian yang berawal dari permasalahan sekolah, diselesaikan melalui tindakan spesifik dari gagasan peneliti untuk mengatasi permasalahan sekolah. Dengan demikian, yang pertama harus ada dilakukan penelitian ini adalah menemukan adanya permasalahan.
Topik yang diangkat dalam penelitian ini berasal dari masalah-masalah aktual dan sangat penting serta mendesak untuk segera dipecahkan. Jika masalah-masalah tersebut tidak segera diatasi dikhawatirkan akan berdampak negatif bagi sekolah. Oleh karena itu diperlukan tindakan spesifik segera yang diyakini benar-benar akan dapat  mengatasi masalah.
Penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru disebut dengan Penelitian Tindakan Kelas, dan penelitian tindakan yang dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah dan pengawas sekolah/madrasah disebut dengan Penelitian Tindakan Sekolah. PTK bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran di kelas, sedangkan PTS bertujuan untuk memecahkan masalah pembelajaran dan masalah-masalah lain yang terjadi di tingkat sekolah.

B.  Definisi PTS

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) merupakan upaya untuk meningkatkan kinerja sistem pendidikan, dan mengembangkan manajemen sekolah agar menjadi lebih produktif, efektif, dan efisien. PTS dapat didefinisikan sebagai tindakan ilmiah yang dilakukan kepala sekolah atau pengawas sekolah untuk memecahkan masalah di sekolah/madrasah yang menjadi tanggungjawabnya (Mills, 2003; Stringer, 2004; Glickman et.al., 2007; Hopkins, 2008). Berdasarkan definisi tersebut maka ciri utama PTS adalah melakukan tindakan nyata untuk memperbaiki keadaan sekolah yang berfokus pada peningkatan mutu pembelajaran oleh guru dan tenaga kependidikan sehingga mampu menghasilkan siswa yang kreatif, inovatif, mampu memecahkan masalah, berpikir kritis, dan bernaluri kewirausahaan.
Pengertian di atas menunjukkan dua kata kunci yang salah satunya harus ada di dalam kegiatan penelitian tindakan sekolah, yaitu pemecahan masalah dan perbaikan atau peningkatan kinerja sistem pendidikan serta manajemen sekolah, yang secara keseluruhan akan berdampak pada peningkatan mutu. Adanya penelitian tindakan sekolah didasarkan oleh alasan-alasan: (1) dirasakan adanya masalah pada sistem pendidikan atau manajemen sekolah; (2) prestasi kerja atau pencapaian sistem pendidikan atau manajemen sekolah menurun atau tidak optimal sehingga menghambat peningkatan mutu.

C.  Tujuan PTS

Tujuan PTS adalah untuk:
(1)   Memperbaiki kondisi saat ini yang terjadi di sekolah (ini yang paling utama).
(2)   Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, hasil pendidikan, manajemen, dan pembelajaran, termasuk mutu guru, khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran yang mampu menciptakan siswa yang kreatif, inovatif, pemecah masalah, berpikir kritis, dan bernaluri kewirausahaan.
(3)   Meningkatkan kemampuan profesional sebagai kepala sekolah/madrasah.
(4)   Menumbuhkembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah, sehingga tercipta sikap kreatif, inovatif, pemecah masalah, berpikir kritis, dan naluri kewirausahaan di dalam memperbaiki mutu pendidikan.
(5)   Membimbing guru dalam membuat proposal, melaksanakan, dan melaporkan penelitian tindakan di sekolah.

D.  Ciri-ciri PTS

Ciri utama PTS adalah sebagai berikut:
(1)   Adanya tindakan nyata untuk mengatasi masalah (ini ciri yang paling utama).
(2)   Didasarkan pada masalah nyata yang dihadapi kepala sekolah/ madrasah.
(3)   Adanya kolaborasi dalam pelaksanaannya.
(4)   Peneliti sekaligus sebagai praktisi yang melakukan refleksi.
(5)   Bertujuan memperbaiki dan atau meningkatkan praktik manajemen sekolah yang berfokus pada peningkatan mutu pembelajaran.
(6)   Dilaksanakan minimal dua siklus. Setiap siklus ada empat tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.

E.  Etika dalam Melaksanakan PTS

Ketika melaksanakan PTS perlu memperhatikan etika, yaitu antara lain:
(1)   Bersikap jujur, misalnya dengan tidak plagiat, tidak fiktif, dan tidak mengubah data, serta menuliskan sumber/referensi yang dikutip.
(2)   Tidak mengganggu tugas pokok dan fungsi sebagai kepala sekolah/ madrasah.
(3)   Tidak mengganggu proses pembelajaran dan tugas mengajar guru maupun kegiatan pendidikan yang sedang berlangsung di sekolah.
(4)   Tidak banyak menyita waktu dalam pengamatan, observasi, dan cara pengambilan data lain di luar proses tindakan.
(5)   Meminta ijin kepada orang-orang yang diteliti.
(6)   Menjamin kerahasiaan data responden yang diteliti.

F.   Perbedaan Berbagai Penelitian Tindakan di Sekolah

Penelitian tindakan dapat dilakukan oleh guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah dengan obyek dan ruang lingkup penelitian yang berbeda seperti dapat dilihat pada Tabel 1.
Kepala sekolah/madrasah dan pengawas sekolah/madrasah dapat melakukan PTS dengan objek yang sama di level sekolah, akan tetapi pengawas dapat melakukannya di lebih dari satu sekolah sedangkan kepala sekolah hanya dapat melakukannya di sekolahnya sendiri. Sebaliknya kepala sekolah sebagai guru juga dapat melakukan PTK di level kelas sedangkan pengawas tidak dapat melakukannya karena bukan guru. Di samping itu PTK juga dapat dilakukan oleh guru lain, yang tidak dapat melakukan PTS karena tidak memiliki kewenangan untuk itu.

Tabel 1: Perbedaan berbagai penelitian tindakan yang dilaksanakan di sekolah
PENELITI
LEVEL
OBJEK
RUANG LINGKUP
Pengawas
Sekolah/madrasah
      Kepala Sekolah
      Guru
      Tenaga Kependidikan
      Siswa
      Kompetensi dan kreativitas termasuk inovasi, pemecahan masalah, berpikir kritis, dan naluri kewirausahaan
      Tugas pokok dan fungsi
      Peranan
Kepala Sekolah / Madrasah
Sekolah/madrasah
      Kepala Sekolah
      Guru
      Tenaga Kependidikan
      Siswa
      Kompetensi dan kreativitas termasuk inovasi, pemecahan masalah, berpikir kritis, dan naluri kewirausahaan
      Tugas pokok dan fungsi
      Peranan
Kelas
      Siswa
Kompetensi dan kreativitas termasuk inovasi, pemecahan masalah, berpikir kritis, dan naluri kewirausahaan
Guru
Kelas
      Siswa
Kompetensi dan kreativitas termasuk inovasi, pemecahan masalah, berpikir kritis, dan naluri kewirausahaan

G. Perbedaan PTS dengan Penelitian Lain

PTS (dan PTK) adalah penelitian tindakan yang berbeda dengan penelitian lain yang bukan PTS (dan PTK). Perbedaan antara PTS (dan PTK) dan non PTS ditunjukkan pada Tabel 2.
Perbedaan utamanya adalah pada tujuan penelitian, yaitu PTS (dan PTK) untuk melakukan tindakan perbaikan kinerja dan mutu sekolah, yang bersifat kualitatif spesifik untuk kasus di sekolah tersebut sehingga hasil penelitian tidak bisa digeneralisasi untuk sekolah lain, sedangkan penelitian lain non PTS bertujuan untuk melakukan pembuktian atau menguji teori tertentu sehingga diperoleh pengetahuan baru yang dapat digeneralisasi. Di samping itu, peneliti dalam PTS juga harus melakukan sendiri tindakan yang ditelitinya, bukan meneliti tindakan orang lain, sedangkan penelitian Non-PTS dilakukan oleh ilmuwan yang tidak harus terlibat langsung dalam proses tindakan yang terjadi dalam penelitian; dalam penelitian Non-PTS ilmuwan melakukan pengamatan terhadap suatu kejadian atau proses yang dilakukan oleh pihak lain.
Tabel 2: Perbedaan antara PTS dan Non-PTS
Aspek
PTS
Non-PTS
Pelaksana
Praktisi (kepala sekolah/madrasah dan pengawas)
Ilmuwan
Tujuan penelitian
      Untuk memecahkan masalah
      Tidak membuktikan/ menguji teori
      Tidak untuk generalisasi
      Membuktikan/menguji teori
      Mengembangkan pengetahuan baru
      Untuk generalisasi
Pengumpulan data
Kualitatif dan atau kuantitatif
Kualitatif dan atau kuantitatif
Tujuan analisis data
      Menemukan masalah praktis
      Mengarahkan rencana tindakan
      Hasil-hasil evaluasi
      Pemahaman thdp gejala
      Menguji hipotesis
Standar mutu
Hasil penelitian menyebabkan adanya perubahan
Ditentukan oleh review thd hasil dan metode oleh sejawat.
Hasil digunakan oleh
Warga sekolah/madrasah
Peneliti lain, profesional, pemerintah, swasta.

H.  Langkah-langkah PTS

 
PTS dilaksanakan dalam siklus empat langkah, yaitu: perencanaan, pelaksanan, pengamatan, dan refleksi. Gambar 2 menunjukkan langkah-langkah PTS. Jumlah siklus minimal adalah dua, sedangkan maksimal tidak ditentukan.










Gambar 2: Siklus Empat Langkah PTS
 
 


Di akhir setiap siklus selalu dilakukan refleksi untuk mengevaluasi hasil pengamatan dalam pelaksanaan tindakan dan menentukan langkah berikutnya. Apabila peneliti telah merasa yakin bahwa tindakan yang dilakukan telah berhasil atau bahkan gagal, maka siklus berikutnya tidak diperlukan lagi. Apabila hasil pengamatan tidak meyakinkan, maka siklus berikutnya harus direncanakan dengan mengulangi langkah pada siklus sebelumnya, dan bila perlu melakukan koreksi atau variasi langkah dalam melakukan tindakan atau atau perbaikan kondisi yang diperlukan agar sesuai dengan persyaratan tindakan.

1.      Perencanaan

Perencanaan adalah langkah awal yang dilakukan peneliti saat akan memulai tindakannya. Agar perencanaan mudah dipahami oleh para pelaku dalam tindakan yang akan dilakukan, maka peneliti sebaiknya membuat panduan tindakan, yang menggambarkan:
(1)  apa yang harus dilakukan para pelaku (objek penelitian) di dalam menjalankan tindakan dari kepala sekolah/madrasah;
(2)  kapan dan berapa lama tindakan dilakukan;
(3)  di mana tindakan dilakukan;
(4)  apa saja fasilitas yang diperlukan;
(5)  jika tindakan sudah selesai, apa tindak lanjutnya.

2.      Pelaksanaan (Tindakan)

Langkah pelaksanaan adalah penerapan rencana yang telah disusun. Hal-hal yang harus diperhatikan kepala sekolah/madrasah dalam pelaksanaan tindakan adalah:
(1)  kesesuaian antara pelaksanaan dengan perencanaan;
(2)  kelancaran proses tindakan yang dilakukan oleh para pelaku dalam tindakan;
(3)  bagaimana situasi selama proses tindakan berlangsung?
(4)  Apakah para pelaku melaksanakan tindakan secara alamiah, tidak dibuat-buat?
(5)  Bagaimanakah hasil keseluruhan dari tindakan?
(6)  PTS merupakan penelitian yang mengikutsertakan secara aktif peran guru dan siswa dalam berbagai tindakan;
(7)  Kegiatan refleksi (perenungan, pemikiran, dan evaluasi) dilakukan berdasarkan pertimbangan rasional (menggunakan konsep/teori) yang valid berdasarkan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan untuk melakukan perbaikan dan memecahkan permasalahan yang terjadi.
(8)  Tindakan perbaikan terhadap situasi dan kondisi pembelajaran dilakukan dengan segera dan dilakukan secara praktis (dapat dilakukan dalam praktik pembelajaran).

3.      Pengamatan

Langkah pengamatan adalah proses pengumpulan data melalui pengamatan terhadap pelaksanaan tindakan. Hal-hal yang diamati adalah unsur-unsur dari proses pelaksanaan tindakan. Pengamatan tidak dilakukan setelah pengamatan, karena antara pelaksanaan dan pengamatan bukan proses yang berurutan, tetapi bersamaan. Pengamatan harus dilakukan menggunakan instrumen pengamatan yang telah dipersiapkan sehingga jelas butir-butir yang harus direkam selama tindakan berlangsung.  Akan lebih baik apabila pengamatan dilengkapi dengan rekaman video, misalnya ketika guru sedang mengajar, sehingga dapat diputar kembali untuk dianalisis pada saat refleksi.
Pengamatan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
(1)   Pengamatan dapat dilakukan orang lain, yaitu kolaborator sebagai pengamat yang diminta oleh peneliti untuk mengamati proses pelaksanaan tindakan. Pengamat bertugas mengamati apa saja yang dilakukan oleh para pelaku dan kejadian apa saja yang terjadi selama tindakan berlangsung.
(2)   Pengamatan dilakukan sendiri oleh peneliti, yaitu apa yang sedang ia lakukan, sekaligus mengamati apa saja yang dilakukan oleh para pelaku dan kejadian apa saja yang terjadi selama tindakan berlangsung.
Alternatif pertama lebih baik dibandingkan dengan alternatif kedua karena hasil kemungkinan hasil pengamatan lebih objektif, lebih asli, dan lebih cermat. Kesulitannya adalah peneliti harus mencari kolaborator yang memahami tindakan yang akan dilakukan dan mampu secara cermat melakukan pengamatan selama seluruh proses tindakan berlangsung.
Data yang dikumpulkan dapat berupa data pengelolaan sekolah/madrasah. Instrumen yang umum digunakan adalah lembar observasi dan catatan lapangan yang tidak dapat terekam oleh lembar observasi, misalnya aktifitas siswa selama pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau petunjuk-petunjuk lain yang dapat digunakan sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.
Sebagai contoh, dalam usulan PTS akan dikumpulkan data sebagai berikut: data jumlah guru, data kualifikasi guru, daftar hadir guru, data kinerja guru, dan sebagainya. Maka lembar observasi dan catatan lapangan dapat digunakan untuk mencatat sikap guru yang terlambat datang, alasan mengapa terlambat atau tidak hadir di sekolah dalam jam tugas, respon guru ketika ditegur saat datang terlambat, sikap siswa ketika guru tidak hadir, dsb.
Data yang dikumpulkan perlu dicek untuk mengetahui keabsahannya. Berbagai teknik dapat digunakan  untuk tujuan ini, misalnya teknik triangulasi, membandingkan data yang diperoleh dedngan data lain, atau kriteria tertentu yang berlaku yang telah baku, dan sebagainya. Data yang telah terkumpul juga memerlukan analisis untuk mempermudah penggunaannya maupun untuk mengambil kesimpulan. Berbagai teknik statistik dapat digunakan untuk keperluan analisis data.

4.      Refleksi

Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan pada siklus berikutnya.
Refleksi dalam PTS mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika ditemukan masalah dalam proses refleksi, maka harus dilakukan pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahann dapat teratasi (Hopkins, 1993).
Refleksi adalah merenungkan hasil pengamatan. Kepala sekolah/madrasah sebaiknya melibatkan para pelaku tindakan (objek penelitian) untuk mengingat kembali kejadian-kejadian ketika proses tindakan berlangsung, bagaimana perasaan mereka, dan apa pendapat mereka tentang proses tersebut, dan apa usul mereka untuk perbaikan pada siklus berikutnya. Dalam penilaian PTS, uraian refleksi ini sangat diperhatikan oleh pembaca, penilai, atau penguji, dicermati bagaimana peneliti melakukannya, dan bagaimana tindak lanjut dari refleksi tersebut. Hal sangat diperhatikan oleh pembaca, penilai atau penguji adalah bagaimana hasil refleksi ini digunakan untuk memperbaiki perencanaan pada siklus berikutnya.

5.      Siklus Berikutnya

Kegiatan pada siklus kedua dapat berupa kegiatan yang sama dengan siklus sebelumnya bila ditujukan untuk mengulangi kesuksesan, atau untuk meyakinkan atau menguatkan hasil. Tetapi umumnya kegiatan yang dilakukan pada siklus kedua mempunyai berbagai perubahan sebagai perbaikan atau variasi dari tindakan terdahulu yang tujuannya adalah untuk mengatasi berbagai hambatan atau kesulitan yang ditemukan pada siklus pertama. Dengan menyusun rencana untuk siklus kedua, maka kepala sekolah/madrasah dapat melanjutkan proses dengan langkah-langkah seperti pada siklus pertama.
Jika sudah selesai dengan siklus kedua hasil refleksi belum memuaskan, maka peneliti dapat merencanakan tindakan pada siklus ketiga yang cara dan tahapannya sama dengan siklus terdahulu. Tidak ada ketentuan tentang berapa jumlah siklus yang harus dilakukan. Banyaknya siklus tergantung pada kepuasan peneliti sendiri, namun sebaiknya tidak kurang dari dua siklus. Meskipun demikian perencanaan siklus-siklus dalam PTS harus memperhatikan kalender pendidikan di sekolah agar tidak mengganggu proses pembelajaran dan penelitian dapat berlangsung secara alamiah.
Agar langkah-langkah dapat dilakukan secara benar maka pokok-pokok kegiatan sebaiknya disusun rencana kegiatan seperti dalam Tabel 3.
Kolom-kolom “RENCANA KEGIATAN’ dan “HASIL YANG DIHARAPKAN” harus diisi dan dilengkapi dengan langkah-langkah yang sebenarnya. Bila menunjuk pada dokumen lain, pada lampiran misalnya, maka bisa disebutkan pada lampiran berapa.
Tabel 3: Pokok-pokok Rencana Kegiatan PTS
SIKLUS
LANGKAH
RENCANA KEGIATAN
HASIL
Siklus 1
Perencanaan
·      Identifikasi masalah dan penetapan tindakan
·      Perumusan skenario tindakan
·      Persiapan tindakan: instrumen, sarana prasarana, kolaborator, jadwal, dsb.
·      Penentuan macam-macam data yang diperlukan dan bagaimana cara memperolehnya.
·      Identifikasi masalah
·      Penetapan tindakan
·      Rumusan masalah
·      Judul penelitian
·      Rumusan tujuan penelitian
·      Proposal penelitian
·      Instrumen dan jenis data yang dibutuhkan
·      Langkah-langkah pengumpulan data
Pelaksanaan
·      Setting tindakan sesuai dengan skenario
·      Pelaksanaan tindakan sesuai dengan skenario
·      Tindakan dapat dilaksanakan sesuai skenario
Pengamatan
·      Pengamatan dilakukan dengan instrumen
·      Data diperoleh sesuai prosedur
·      Seluruh kejadian dalam proses tindakan dicatat dalam lembar observasi dan catatan lapangan
·      Data kuantitatif
·      Data kualitatif
·      Catatan peristiwa selama proses tindakan
Refleksi
·      Evaluasi tindakan dan data-data yang diperoleh
·      Pertemuan membahas hasil evaluasi
·      Merencanakan langkah-langkah siklus 2
·      Perubahan atau perbailkan yang terjadi
·      Masalah atau kesulitan yang dialami
·      Peristiwa yang terjadi di luar skenario
·      Rencana langkah-langkah siklus 2.
Siklus 2
Perencanaan
Rencana langkah sesuai refleksi siklus 1

Pelaksanaan
Pelaksanaan sesuai skenario siklus 2

Pengamatan
Pengamatan sesuai rencana siklus 2

Refleksi
Evaluasi siklus 2

Siklus-siklus selanjutnya
Kesimpulan, saran, rekomendasi

Misalnya untuk rencana kegiatan “Identifikasi masalah dan penetapan tindakan”, maka pada kolom “HASIL YANG DIHARAPKAN” dapat diisi dengan: “Prestasi belajar siswa rendah karena sebagian guru (40%) masih rendah inovasi mengajarnya.” Selanjutnya, tindakan yang ditetapkan diisi dengan, misalnya: “Menyelenggarakan pelatihan strategi pembelajaran bagi guru.”, dan rumusan masalah “apakah melalui pelatihan strategi pembelajaran bagi guru dapat meningkatkan kemampuan inovasi dalam mengajar?” Dan seterusnya, sehingga secara rinci skenario tindakan tersusun jelas sesuai dengan konsep atau teori dari tindakan yang telah ditetapkan, dan tidak menimbulkan kesalahan penafsiran.

I.     Indikator Keberhasilan

Keberhasilan tindakan dapat dilihat dari data-data hasil pengamatan yang diperoleh selama dan sesudah proses tindakan berlangsung. Untuk itu sangat penting untuk menjabarkan terlebih dahulu indikator utama keberhasilan  PTS yang direncanakan. Tabel 4 menampilkan contoh indikator utama dan rinciannya. Indikator keberhasilan sangat erat hubungannya dengan rancangan instrumen yang digunakan dalam PTS.
Tabel 4: Contoh indikator keberhasilan PTS
NO.
INDIKATOR
DESKRIPSI
1.
Semakin PAIKEM-nya suasana pembelajaran
      Terciptanya suasana PAIKEM
      Siswa tidak mengantuk
      Siswa belajar melalui media non konvensional (internet, perpustakaan, alam, dll) dalam peneyelesaian tugas.
2.
Semakin inovatifnya kegiatan PBM yang dilakukan siswa
      Belajar dalam kelompok
      Data dan bahan berkembang secara inovatif
      Bekerja secara inovatif
      Kolaborasi secara positif antar siswa
      Konstruksi, kontribusi, dan sistesis informasi
      Self directing motivation
3.
Meningkatnya kemampuan melakukan penilaian thd diri sendiri
      Waktu
      Kualitas
      Kuantitas
      Meningkatnya kehadiran guru dan siswa

J.   Ruang Lingkup PTS

Penelitian Tindakan Sekolah dapat dilakukan untuk mengatasi hampir semua masalah yang terkait dengan kinerja dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Meskipun demikian tidak semua masalah yang muncul di sekolah dapat diatasi dan diangkat menjadi topik PTS.
Beberapa tema berikut dapat dikembangkan lebih lanjut untuk menjadi topik dalam PTS:
         Perencanaan dan pengembangan sekolah
         Iklim dan budaya sekolah
         Pemantauan kemajuan peserta didik
         Kepemimpinan kepala sekolah
         Pengembangan PTK
         Pengembangan peserta didik
         Pemberdayaan orang tua dan masyarakat
         Penghargaan dan insentif
         Tata tertib dan kedisiplinan
         Pengelolaan kurikulum
         Akuntabilitas sekolah
( DIKUTIP DARI PTS DAHLAN )